Songket Palembang, ibu tiri, dan Kampung Mangatas

Posted by Jarar Siahaan on May 5th, 2009 and filed under Opini Pembaca. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

MERDI SIHOMBING

MERDI SIHOMBING

Desainer Merdi Sihombing, yang adalah juga pembaca Blog Berita sejak online Maret 2007, menuliskan opininya tentang berbagai hal seputar perempuan Batak. Inilah sepucuk surat yang pernah dikirim oleh Merdi ke email Blog Berita. Foto: Merdi ketika berkunjung ke rumahku di Balige tahun 2008.

Dua tahun lebih tak terasa sudah pekerjaan yg sungguh sgt berat dan cukup membuatku hampir putus harapan, sepertinya ulos dan songket Batak bisa gak seh… Industrinya bergulir spt apa yg kucita-citakan. Tapi jawabannya ada pada peran perempuan Batak (partonun) generasi muda yg perlahan sudah terkumpul dan berikrar bersama-sama utk mewujudkannya.

Akan menghapuskan peran tengkulak2 yg meliliti kehidupan mereka hingga tidak ada daya utk berkembang guna memperbaiki penghidupan mereka. Mereka2 telah terbuka matanya,ketika mata2 mereka melihat dunia luar spt Bali dgn Perempuan Penenunnya punya wawasan yg jauh lebih. Penenun Palembang yg karya2nya dijadikan ratunya kain oleh sesama Perempuan Batak yg tentunya dari golongan yg punya uang. Mereka tdk mau nasibnya spt org tuanya.

Padahal kalaulah kita2 ini, terutama orang Batak yg sukses dgn gelimang harta yg tdk terkira mau menjadikan ini tanggung jawab bersama, pastilah 85% perempuan Batak konsumen Songket Palembang tsb perlahan-lahan kembali mencintai karya sesama perempuan Batak.

Sungguh banyak cerita sedih para permpuan Batak dan sgt2 mengharukan yg kutemui dalam rentang waktu tsb. Ada yg rela mengorbankan bea siswa perguruan tinggi hanya karena harus bertenun utk membiayai saudara lelakinya yg harus jd sarjana dan adik2nya yg masih kecil2 sementara orangtuanya hanya petani di daerah yg kurang subur.

Ada yg tidak tahan karena punya ibutiri yg kejam akhirnya lari kawin dgn duda tua (kini tidak produktif), setelah punya dua putri balita si partonun tsb menjadi tiang keluarganya yg utk makan sehari-hari sgt susah. Ada jg yg tergiur masa depan yg indah dgn bekerja sbg TKW di negeri jiran Malaysia tp pulangnya membawa momongan bayi dan entah siapa yg hrus bertanggung jawab thd sang jabang bayi tsb.

Bagaimana Perempuan Batak yg katanya boruni raja membuat hati menangis. Ketika satu masa saya diajak oleh kawan di satu tempat hiburan di kawasan Silindung. Ada satu kafe namanya “KAMPUNG MANGATAS” yg pramurianya semua boru Batak. Ada juga tempat hiburan di pinggiran danau Toba yg suasananya dibuat spt ANCOL di kota Balige….

Buat pembaca Blog Berita di manapun berada [di Tanah Batak, Jakarta, Papua, atau Arab Saudi], apapun sukumu [Batak, Jawa, bule, atau "Batak Tembak Langsung"], apapun agamamu [Islam, Parmalim, Bahai, Kristen, Zoroaster, atau Atheis], rubrik OPINI PEMBACA ini disediakan khusus untukmu. Silakan tulis opinimu tentang apa saja yang menarik minatmu.

Ingin berpendapat tentang pemilu, Ketua KPK yang dijadikan tersangka pembunuhan, peraturan kantormu yang aneh, soal sinetron tivi yang cuma mengumbar air mata dan kemewahan, soal polantas yang sering menyempritmu lalu “minta sedekah”, pendapatmu tentang langkanya pupuk bersubsidi, soal CD bajakan, atau apa saja, tulislah dan kirim ke blogberita [at] gmail [dot] com. Tapi harus terlampir foto dirimu.

tafbutton blue16 Songket Palembang, ibu tiri, dan Kampung Mangatas

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

2 Responses for “Songket Palembang, ibu tiri, dan Kampung Mangatas”

  1. Farida Simanjuntak says:

    Cerita tentang kepedihan hidup wanita batak mungkin tidak akan pernah berhenti. tetapi walau sering dijadikan Pelengkap Penderita, sesungguhnya wanita Batak terutama yang hidup di kampung adalah Pejuang tangguh….

  2. Pargodungan says:

    Keadaan ini sangat memprihatinkan. Banyak potensi yang dimiliki oleh orang Batak. Sayangnya, mereka harus terjepit oleh arus kapitalisme. Ketergantungan pada pemodal begitu besar. Adakah yang dapat diusahakan oleh aktivis batak di dunia maya? Mungkin dapat dimulai dengan publikasi produk partonun di daerah masing-masing melalui blognya..

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video

Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.