Terdapat hampir 600 orang calon anggota DPRD Kabupaten Toba Samosir yang bertarung pada Pemilu legislatif lalu untuk memperebutkan hanya 25 kursi. Tidak sedikit dari mereka yang bermain politik uang, dan memang banyak yang menang dengan cara itu.
Memang belum ada terkabar caleg Tobasa yang kalah menjadi pesong seperti kita lihat di televisi, tapi sekarang mereka menuntut rakyat. Mereka menagih kembali suap yang sempat diberikan kepada warga sebelum Pemilu.
Misalnya di Kecamatan Balige ada seorang suami yang mencak-mencak mendatangi rumah warga sambil meminta kain sarung. “Mana sarung yang kemarin? Kalian tidak pilih isteriku, jadi kembalikan saja,” katanya.
“Bah, unang somal halaki [supaya mereka jera],” katanya kepada wartawan. Isterinya adalah caleg dengan perolehan suara sangat sedikit.
Dari REDAKSI BlogBerita.Net: Bila kau ingin mengirim artikel ini kepada teman lewat email-mu, Facebook, YM, GTalk, dll, klik tombol TELL A FRIEND di sudut kiri bawah artikel.
Ada lagi seorang caleg DPRD Tobasa mencopot kembali bola lampu jalan yang sempat diapasang di sebuah desa — dengan maksud supaya warga desa memilihnya. Rupanya suara untuknya di desa tersebut tidak seberapa, ya begitulah jadinya.
Caleg “kek-kuk-kek-kuk” yang menyuap rakyat dengan pupuk juga ada, tapi dia tidak dipilih rakyat. Ditagih, deh, itu pupuk. Yang bagi-bagi kitab suci pun ada, tapi tidak tahulah apakah si caleg memintanya kembali.
Blog Berita mengamati, pada Pemilu legislatif April lalu warga Tobasa umumnya memilih caleg yang rela mengeluarkan uang paling banyak. Maka jangan heran bila ada seorang warga yang menerima uang sogok dari sekaligus lima caleg dari partai yang berbeda.
Rata-rata caleg memberikan Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. “Tapi pada hari terakhir ada yang datang memberikan Rp150 ribu, dialah yang kupilih,” katanya. “Memang aku tak kenal dia, tapi apa peduliku, toh nanti kalau dia duduk di Dewan tetap juga bermain proyek, tetap korupsi.”
Beberapa caleg busuk yang tahunya cuma money politics juga menjadi korban para TS [tim sukses] atau yang kusebut sebagai R-O alias raja olah. Di Kecamatan Lumbanjulu ada seorang caleg memberikan dana Rp100 juta kepada TS-nya tetapi perolehan suaranya sangat minim. Setelah diusut, rupanya uang tersebut tidak disampaikan oleh si TS kepada warga.
Uang Rp100 juta itu tetap disimpannya, utuh, tidak kurang sedikitpun. “Jolo dipaltapi si caleg ima TS nai, baru pe mangakku, jala himpal dope hepeng i dipaulak [caleg tersebut menampar TS-nya, barulah dia ngaku dan uang tersebut pun dikembalikan utuh],” cerita seorang rekan wartawan koran kepada Blog Berita. [blogberita.net]

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















itu namanya iklas tapi tak rela…naung pesong mai.Pailahon halak batak…cuihhh
Makanya banyak caleg yang stress….. untung kalau tidak masuk ke RS JIwa.
Hal ini sangat memalukan… Ibaratnya sudah membuang ludah tapi dijilat lagi… Benar-benar ga punya mental seorang petarung tangguh yang seharusnya siap juga untuk kalah…
Caleg sudah terlanjur ngasih uang /barang pd masyarakat, lalu diminta lagi karena tidak terpilih, ini sikap yang sangat memalukan, memperlihatkan kepribadian mereka yang sesungguhnya, orang-orang seperti ini menurut dugaan saya tidak diakui/bukan tokoh panutan di tengah lingkungannya.
Ada2 saja ya..
Bikkin malu memang ”Halak Hita” ini.
Padahal, nunga dipakke inantai da marpiga-piga hali sarungna, sopola disussi, nunga diroro amantai….
boha namai ??? hape nga adong mambaen lappin ni anakon na… Tega do hamu AMANG???