Betulkah anak ni raja dan boru ni raja?

Posted by Jarar Siahaan on May 7th, 2009 and filed under Opini Pembaca. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

FARIDA SIMANJUNTAK

FARIDA SIMANJUNTAK

Oleh Farida Simanjuntak — Beberapa waktu lalu aku dalam perjalanan dari Balige menuju Medan, ada hal menarik yang kutemui di perjalanan yang membuatku berpikir tentang martabat seorang wanita. Terutama di dalam keluarga Batak yang selalu mengagungkan istilah “Boru ni Raja”. Juga gambaran betapa lemahnya seorang wanita.

Sewaktu mobil yang kutumpangi berada di Siantar, di tengah jalan ada seorang wanita menghentikannya. Karena sudah malam dan kondisi jalan yang gelap, sopir menghentikannya kira-kira 5 meter dari tempat wanita itu berdiri. Dengan tergesa-gesa wanita yang kutaksir kira-kira berumur 45 tahun langsung duduk ke sampingku. Dia hanya mengenakan stelan baju tidur sambil menenteng sebuah plastik hitam dan tas kecil, di bahunya ada sebuah sarung. Belum lagi mobil berjalan, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang laki-laki menarik tangan wanita itu.

Lelaki itu berkata, “Unang laho ho, hatop turun. Ingkon mangkatai ma jo hita. Amang sopir paturun hamu jo inanta on, ai pardijabu hu do ibana.” (Kamu jangan pergi, cepat turun. Kita harus bicara. Bapak sopir turunkan wanita ini, dia istriku). Wanita itu membalas, “ Dang olo ahu, dang tahan be au rap dohot ho. Nga leleng hutaon sude pangalahom. Nga sae be sai disusai ho ngolunghu. Urus ma gellengta i.” (Aku tidak mau, aku tidak tahanlagi bersamamu,. Sudah terlalu lama aku menahan semua perilakumu. Sampai di sini saja kau menyusahkan hidupku. Kau uruslah anak kita).

Sempat terjadi tarik menarik menarik diantara keduanya dan saling teriak, sehingga penumpang lain mulai potes dan menyuruh wanita itu turun. Tapi wanita itu bersikeras tidak mau turun. Laki-laki itupun membanting pintu mobil dengan keras sambil menyumpah dan mengancam. Sopir lalu menyuruh wanita itu untuk segera turun karena dia tidak ingin ada hal-hal buruk terjadi di perjalanan. Wanita itu terus memohon untuk ikut saja. Tapi sopir dan penumpang lain tidak mau dan tetap menyuruh wanita itu turun untuk menyelesaikan masalah dengan lelaki itu.

Karena melihat tidak ada harapan untuk ikut, maka wanita itu turun dan sambil menangis dia berkata: “Ah, tahe…, borat nai sitaononhon (ah, betapa berat bebanku).”

Dia pun menutup pintu mobil. Aku hanya bisa memandangi wanita itu dari jendela, dia berlari ke seberang jalan dan menghilang di kegelapan malam. Mobil yang kutumpangi pun melanjutkan perjalanan.

Aku terdiam dan merasa terpukul dengan kejadian itu. Aku berpikir wanita itu nekad meninggalkan keluarganya mungkin karena sudah tidak tahan dengan perlakuan sang suami. Hal ini kusimpulkan dari wajah dan tatapan matanya yang menggambarkan rasa putus asa, ketakutan dan dia tidak lagi berpikir untuk berpakaian yang pantas jika memang dia ingin melakukan sebuah perjalanan. Rasa tidak percaya diri dan dikecewakan telah membutakan mata hati maupun perasaannya.

Bagaimana mungkin dia nekad bepergian malam hari dan pastinya meninggalkan anak-anaknya ? Belum lagi dia harus dikejar sang suami yang ternyata tidak rela kalau si istri meninggalkannya. Pikiran itu terus berkecamuk dan membuatku merasa miris dengan kedudukan wanita dalam rumah tangga.

Dalam keluarga Batak dikenal istilah “Anak ni Raja dan Boru ni Raja”. Bila seorang anak perempuan akan menikah, maka orang tua akan selalu menasehatinya untuk berperilaku sebagai Boru ni Raja (Puteri Raja), yang harus menjaga sikap dan menjadi seorang istri juga ibu yang baik. Dia harus mengabdi kepada sang suami. Karena sikapnya akan mencerminkan ajaran dan nama baik keluarganya.

Tetapi yang sering terjadi adalah, ketimpangan dalam keluarga. Lelaki sebagai Anak ni Raja sangat disanjung, tetapi kebanyakan istri kehilangan makna sesungguhnya sebagai Boru ni Raja. Tidak ada lagi keseimbangan. Seringkali, seorang istri harus merasakan tekanan dari suami baik fisik maupun mental. Tapi dia hanya bisa diam, menerima begitu saja dan bertahan demi menjaga nama baik dan amanat dari orang tua. Haknya seakan-akan dirampas, dia harus benar-benar tunduk dan terima apa pun yang terjadi. Karena dia sudah terikat perkawinan dengan sang suami.

Banyak kejadian seperti ini yang kutemui, dan hampir seluruhnya berkata, “Mau apalagi ? Saya sudah terlanjur menikah dan saya tidak mau mempermalukan suami juga orang tua saya. Yang penting saya masih bisa bersama anak-anak.”

Ketakutan yang utama adalah takut dipisahkan dari anak-anaknya. Karena bagi seorang wanita yang sudah menikah dan punya anak, kekuatan utamanya adalah anak-anak. Hal ini karena wanitalah yang mengandung dan melahirkan, jadi mereka sudah merasakan sakitnya memperjuangkan kehidupan bayi yang akan lahir dan ikatan bathin yang sudah terjalin sejak bayi dalam kandungan. Tetapi ini juga yang menjadi kelemahan, sehingga tidak berani protes walau sudah diperlakukan dengan semena-mena.

Aku tidak menutup mata dengan kenyataan lain bahwa banyak juga wanita yang sudah menyalahi kodratnya. Tetapi dalam hal ini, aku hanya ingin mengungkapkan perasaan tidak terima dengan status wanita yang seringkali lemah di dalam rumah tangga. Seharusnya, kaum pria sebagai anak ni Raja dapat bertindak bijaksana. Karena seorang Raja adalah Pemimpin, teladan dan mempunyai wibawa. Bukan sebagai seorang diktator yang menganggap dirinya sangat berkuasa dan dapat berbuat sesuka hati, apalagi kalau ringan tangan, sungguh memalukan dan sikap seorang pengecut.

Aku yakin, wanita tadi sudah benar-benar tidak tahan dan putus asa sehingga dia memilih untuk lari dan meninggalkan keluarganya. Berbagai macam pikiran berkecamuk. Aku khawatir wanita itu akan nekad dan mengambil jalan pintas. Mungkin dalam pikirannya sudah tidak mengingat anak-anak yang ditinggalkan di rumahnya, baginya yang penting pergi sejauh mungkin dari suami. Sebuah keputusan yang berat. Dia merasa sendiri dan tidak ada tempat berlindung.

Sampai kapan hal ini seperti ini akan terjadi ? Kita tidak akan pernah tahu. Banyak juga keluarga yang bahagia dan dapat menyelesaikan masalah delam rumah tangga dengan baik-baik. Menurutku ini dikarenakan pria yang menjadi Kepala rumah tangga sudah bisa memahami dan menjalankan kedudukannya sebagai seorang anak ni raja. Jadi dia akan berusaha bersikap bijaksana. Bukan lagi sebagai penguasa.

Dan bagi kaum wanita, seharusnya pemahaman sebagai boru ni raja adalah untuk menjadi wanita seutuhnya yang akan menjaga dan menghormati keluarga itu sendiri terutama suami sebagai pemimpin. Bukan terima begitu saja pelakuan semena-mena. Jangan hanya menganggap bahwa wanita itu memang lemah terutama dalam berkeluarga. Bukan juga mau menyalahi kodrat sehingga memaksakan diri untuk menyamakan kedudukan dengan suami. Harusnya ada keseimbangan dalam hal-hal tertentu.

Bagi kaum wanita yang membaca tulisanku ini, aku hanya mau berpesan; jangan mau jadi wanita lemah, tetapi jangan juga melupakan kodrat kita. Kita juga berhak untuk protes kalau memang harga diri dan martabat kita sudah tidak lagi dihargai. Dan bagi kaum pria: jadilah anak ni raja yang bijaksana dan bisa menghargai wanita. — Farida Simanjuntak menetap di Balige; artikel ini dikirim dari Medan.

tafbutton blue16 Betulkah anak ni raja dan boru ni raja?

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

9 Responses for “Betulkah anak ni raja dan boru ni raja?”

  1. Farida Simanjuntak says:

    @ Bang Jarar…

    Horas bang…. Terima kasih tulisanku sudah dimuat…. Blogberita makin keren aja tampilannya…. Mantafffffffff nai jo fuang………
    Sukses selalu ya bang…..

  2. Harson art says:

    Hidup itu memang keras,makanya perlu komunikasi yg baik ddlm keluarga.mengalah untk menang(kedamaian)merupakan yg terpenting.bt blog berita slm bt farida.ok b’jj

    • Farida Simanjuntak says:

      Horas ito Harson.. Salam kenal… :-)
      Memang betul ito, komunikasi adalah jalan terbaik dalam suatu hubungan tetapi adakalanya komunikasi sudah tidak dapat terjalin karena ego yang berbicara…

  3. Hanna says:

    Terus terang hati saya miris membaca tulisan ini dan sekali gus menyesalkan tindakan semua penumpang (khususnya penumpang laki2)dan sopir yg ada di dalam bus tersebut tanpa berusaha membantu si perempuan itu.
    Sering kali saya membaca, seorang penumpang di aniaya/dibunuh dalam Bus , dan penumpang lainnya tidak berkutik dan membiarkan begitu saja tanpa memberi bantuan pd si korban.
    atau paling tidak melaporkan pada polisi terdekat?( lewat tel umpamanya)
    Dan saya juga heran,kenapa wanita2 yg dianiaya suami tidak melapor pd Polisi, apakah hukum tk perlindungan kaum perempuan di indonesia sudah tidak berlaku lagi?
    Jadi pesan saya pd kaum perempuan Indonesia, kalau suami bertindak kasar / menganiaya , larilah ke polisi terdekat, dan biarlah hukum yg menyelesaikannya.
    Dan kepada kaum laki2 , hargailah kaum wanita, dan jangan bertindak semata-mata, karena semuanya ada hukum dan aturannya.
    Anak ni raja dan boru ni raja yg benar adalah ,Orang yg menghargai hukum dan aturan tanpa bertindak /main hakim sendiri.

    • Farida Simanjuntak says:

      Horas kak Hanna
      Dan sampai saat ini penyesalan terdalamku adalah tidak dapat melawan semua orang di dalam angkutan itu, supaya wanita tersebut bisa menumpang. Tapi kakak tahu sendiri watak halak hita yang kadang merasa dirinya paling benar dan tidak mau terganggu. Ada seorang bapak yang tetap menyelutuk setelah mobil berjalan dan dia sepertinya menjasdikan kejadian tersebut sebagai suatu hal yang lucu. Waktu aku coba tegur dengan mengatkan apa hal ini akan lucu kalau terjadi pada dirinya, dia hanya diam sambil menatapku tapi kayak mau memakanku …. Sok pasang muka sangar…
      Terima kasi buat komentarnya ya kak… :-)

  4. olanto says:

    Kesimpulan awal dari saya setelah membaca tulisan ini adalah apabila seorang isteri terlalu tergantung kepada suaminya biasanya sang suami cenderung menjadi otoriter. Oleh karena itu perlu mendidik anak perempuan kita menjadi mandiri dalam artian dia mempunyai pengetahuan yg cukup dan keterampilan yg memadai sehingga pihak laki-laki akan berpikir dua kali untuk bertindak sewenang-wenang kepadanya. Survey membuktikan bahwa pada kehidupan keluarga ( suami – isteri ) dengan konsep ” mitra sejajar ” peristiwa KDRT ( kejadian kekerasan dalam rumah tangga ) jarang terjadi.
    Ada beberapa kebiasaan dan anggapan ( mindset ) pada ” halak hita ” all:
    1. istilah ” tuhor ni boru ” yang menganggap “sinamot ” adalah tuhor ni boru, padahal sebenarnya sinamot itu adalah kontribusi biaya pesta adat perkawinan dari pihak paranak.
    2. kebiasaan “paajarhon” yaitu tindakan adat dari pihak suami memulangkan isterinya kerumah orangtuanya untuk diajari. Tidak berimbang, kenapa juga suami tidak di paajarhon apabila sang suami misalnya sering mabok minuman, berjudi, berselingkuh dengan wanita lain dlsb.
    3. Masih ada dalam masyarakat halak kita menganggap derajat wanita lebih rendah dari laki-laki, antara lain dalam pendidikan anak; apabila dana terbatas maka anak laki-laki diprioritaskan, anak perempuan disuruh cepat menikah. Juga dalam hak waris anak perempuan dinomor duakan.
    Tapi umumnya yang saya lihat dalam keluarga yang sudah merantau dan berpendidikan, penghargaan kepada anak perempuan sudah meningkat.
    Ada beberapa kejadian yang saya lihat bahwa wanita Batak yang sudah berpendidikan lebih mengutamakan anaknya dalam artian dia tidak menggantungkan diri pada suaminya yang berselingkuh yang tidak pernah lagi pulang kerumah, bahkan tidak minta diceraikan. Kewajibannya sebagai ibu yang mendidik anak tetap dijalankannya.

    • Farida Simanjuntak says:

      Horas ito..
      Saya setuju dengan pendapat ito. Sampai sekarang saya belum bisa menerima istilah “Tuhor ni boru”. Seharusnya memakai istilah Sinamot saja, karena kalau “tuhor” seakan-akan perempuan itu adalah sebuah barang yang diperjualbelikan jadinya bisa diperlakukan semau pembelinya. Saat ini masih banyak pasangan yang belum menjadi partner dalam rumah tangga khususnya di kampung. Doktrin bahwa lelaki adalah raja masih sangat kuat mengikat. Semoga akan ada pembaharuan dalam masyarakat batak padea khususnya yang bisa menerima kedudukan perempuan sejajar dengan lelaki tanpa melupakan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu…
      Terima kasih ito…. :-)

  5. BARRY says:

    Saat membaca artikel ini, tiba-tiba aku teringat kedua boru ku. Masih kecil-kecil mereka, namun pikiran kalau suatu hari nanti mereka akan berumah tangga membuat aku sedikit merinding membaca cuplikan di kendaraan umum tersebut.

    Semua yang Farida tuliskan diatas benar adanya. Sebagai suami, seorang pemimpin dalam suatu rumah tangga, saya harus TUNDUK terhadap istri. Yaitu tunduk terhadap kebutuhan-kebutuhan sang istri. Baik secara emosional maupun materi. Menjadi seorang pemimpin rumah tangga itu tidak mudah, yang mudah itu adalah menjadi seorang diktator. Bagaimana merebut hati seseorang itu tidak mudah, yang mudah adalah mengecewakan dan menghancurkannya.

    Setiap hari, yang bisa istri dan saya lakukan terhadap boru kami adalah mengajarkan mereka kepercayaan diri -sesuatu yang harganya lebih mahal dari emas. Memberi mereka pengertian jika diri mereka adalah sesuatu yang sangat berharga. Berharga di mata Sang Pencipta, dan berharga di mata orang tua mereka. Kedua hal tersebut perlu mereka kecamkan. Apa yang mereka ingin capai dalam hidup ini bersumber dari kedua hal diatas. Dan jangan pernah takut beranjak dari tempat kamu berada.

    Saya pribadi masih harus banyak belajar dan berusaha untuk menjadi yang terbaik. Mungkin sampai meninggalpun saya masih berusaha. Persamaan hak antara wanita dan pria akan selalu didiskusikan dan disimak sepanjang masa, namun satu hal yang saya rasa benar adalah jika persamaan itu dimulai dari rumah kita masing-masing.

    Terima kash Farida untuk artikel di atas, bagus untuk menjadi bahan renungan.

    • Farida Simanjuntak says:

      Horas, tulang… Terima kasih sudah ngasih komentar di tulisanku ini..
      Jujur tulang, aku sendiri pun saat ini masih ada ketakutan kalau suatu saat nanti aku menikah apakah lelaki yang menjadi suamiku akan menghargai dan bisa menjadi partner sehidup semati ? Bukan sebagai penguasa yang harus dipatuhi dan diterima segala perbuatannya baik maupun buruk … Mungkin berlebihan tapi rasa takut itu masih ada juga. Walau sebenarnya di keluarga kami hal tersebut tidak pernah terjadi. Bapakku juga selalu menanamkan sikap saling menghargai antara lelaki dan wanita denga harapan anak-anaknya pun akan dihargai di keluarga yang akan dibina di kemudian hari. Terlalu banyak contoh kasus yang seperti ini kita jumpai dalam masyarakat. Walau awalnya sebuah hubungan dimulai dari proses pacaran yang indah tapi ternyata semua bisa berubah setelah berumah tangga. Mungkin karena perasaan sudah memiliki lebih kepada rasa menguasai…

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.