Budaya politik untung-rugi

Posted by Jarar Siahaan on May 7th, 2009 and filed under Opini Pembaca. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

FADMIN MALAU

FADMIN MALAU

Oleh Fadmin Prihatin Malau — Pujangga Kahlil Gibran mengatakan, “Orang yang akan membawa bencana bagi bangsanya adalah orang yang tak pernah menenun kain, menyusun bata, dan menyemai benih, tetapi menjadikan politik sebagai mata pencahariannya….”

Mari, kita renungkan ucapan bijak ini. Renungkan lima tahun yang lalu, jargon-jargon politik yang dilontarkan para politikus negeri ini yang kini duduk pada pucuk pimpinan. Renungkan! Lihat apa yang terjadi.

Seorang rekan penulis yang dikenal sebagai budayawan muda di Taman Budaya Sumatera Utara pernah mengatakan, setidaknya sekali lima tahun pemimpin melihat rakyatnya, yakni ketika masa kampanye. Semua mengaku ingin dekat dengan rakyatnya, semua berjanji ingin mensejahterakan rakyatnya. Tidak ada yang mengatakan ingin memperoleh jabat di legeslatif, ingin memperkaya diri, golongan dan kaumnya. Semua ingin mensejahterakan rakyat.

Berarti, bila ingin mensejahterakan rakyat maka dunia politik bagi politikus bukan sebagai mata pencaharian. Bukan bisnis, tidak berdagang. Bila tidak berdagang maka tidak mengenal untung, karena tujuan bisnis, dagang adalah mencari keuntungan.

Indonesia sudah berulangkali memilih pemimpinnya sejak Indonesia merdeka, hitung saja sekali dalam lima tahun dan sudah berkali-kali. Mengapa rakyat Indonesia masih saja sengsara? Mengapa bangsa ini masih saja dilanda bencana? Pujangga Kahli Gibran mengatakan Orang yang menjadikan politik sebagai mata pencaharian adalah orang yang membawa bencana bagi bangsanya.

Bila rakyat Indonesia masih sengsara dan bangsa ini masih terus dilanda bencana berarti politik masih menjadi mata pencaharian bagi para politikusnya.

Seorang rekan penulis yang dikenal sebagai politikus muda dengan gamblang mengatakan kalau mau duduk menjadi anggota parlemen harus menyediakan uang puluhan, ratusan juta rupiah. Bila tidak jangan harap dapat terpilih menjadi anggota parlemen.

Katanya lagi, itu sudah rahasia umum. Namun menurutnya tidak perlu ragu dan takut. Sediakan saja uang ratusan juta, kalau sudah terpilih nanti pasti uang akan kembali dan jumlahnya bisa empat kali dari yang dikeluarkan. Bukan hanya seorang saja politikus yang mengatakan begitu.

Penulis tidak percaya ungkapan itu. Namun angka-angka yang mereka sebutkan benar juga. Bagaimana tidak harus menyediakan uang. Perlu sosialisasi, butuh mengiklankan diri agar masyarakat mengenal. Promosi diri dengan memberikan berbagai santunan, bantuan kepada rakyat miskin.

Aktualisasi diri sebagai orang yang baik, promosi, pencitraan diri tidak bisa dilakukan hanya dengan modal ”lidah ludah”, butuh uang. Pada hal pencitraan diri pada hakikatnya adalah perbuatan, bukan promosi.

Bantuan terus mengalir agar masyarakat yakin. Jargon-jargon politik harus bisa menina bobo-kan masyarakat. Kemiskinan, kesengsaraan, keterpurukan harus dieksploitasi, kemudian diaktualisasikan dengan pendekatan kepada masyarakatnya. Semuanya itu butuh uang yang cukup besar.

”Jika ingin mendapatkan ikan yang besar, bagus, umpannya harus udang, jangan lagi cacing atau lumut. Ikan yang dapat pasti tidak besar dan bagus,” kata seorang rekan yang punya kegemaran memancing.

Pendapat rekan yang gemar memancing ini ternyata diimplementasikan para politikus dengan menabur janji, mendengarkan suara petani dengan menina bobo-kan dengan janji-janji ia adalah sahabat petani. Pro wong cilik, pembela rakyat kecil. Aktualisasi diri dengan membagi-bagikan bantuan sebagai wujud kepedulian. Jargon-jargon politik banyak yang menina bobo-kan rakyat kecil, mengimpikan bangsa yang sejahtera.

Politikus sesungguhnya adalah mereka yang berbuat tanpa pamrih. Memberi tanpa meminta imbalan, mereka bekerja bukan berbicara. Mereka melakukan bukan menyuruh sebagaimana yang dikatakan pujangga Kahlil Gibran orang yang tak pernah menenun kain, menyusun bata, dan menyemai benih, membawa bencana bagi bangsanya.

Benar! Orang yang tak pernah menenun kain, jangan berharap ingin mendapatkan kain, orang yang tak pernah menyusun bata, jangan berharap ingin mendapatkan rumah, orang yang tak pernah menyemai benih, jangan ingin berharap mendapatkan gabah, jangan ingin panen raya.

Bagaimana pula dengan para politikus yang menjadikan dunia politik sebagai mata pencahariannya. Pasti berhitung untung-rugi dan menginginkan keuntungan yang berlipat ganda.

Fadmin Prihatin Malau adalah penyenang sastra, penyuka kebudayaan, tinggal di Porsea, Kabupaten Toba Samosir.

tafbutton blue16 Budaya politik untung rugi

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video

Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.