Oknum wartawan Balige memeras guru di Tapteng

Posted by Jarar Siahaan on May 7th, 2009 and filed under Headlines, jurnalisme. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Foto: Metro Tapanuli/Masril Rambe

Foto: Metro Tapanuli/Masril Rambe

Polsek Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, menahan tiga wartawan dan aktivis LSM karena memeras sejumlah guru dan kepala sekolah. Beberapa pekan lalu tiga wartawan lain di Balige juga sempat ditahan Polres Tobasa karena tertangkap basah memeras pengusaha pupuk.

Harian Metro Tapanuli menulis berita beberapa hari lalu, kutipannya:

Aparat Polsek Barus bekerja sama dengan masyarakat berhasil menciduk dua oknum wartawan dan satu oknum LSM di Tapteng yang mengaku sebagai Tim Monitoring Dinas Pendidikan Sumatera Utara. Mereka diduga melakukan pemerasan dan penipuan terhadap Kepala SMPN 4 Satuatap Sosorgadong, Ratna Dewi Hasibuan, dan Kepala SDN 155702 Pulo Pane Kecamatan Sosorgadong, Tapteng, dan sejumlah Kasek lainnya.

Dari tangan ketiga tersangka, polisi mengamankan berkas seperti surat tugas wartawan, surat tugas LSM, blangko hasil monitoring yang berkop surat Dinas Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar, SMP, dan SMA.

Ratna Dewi br Hasibuan menjelaskan, pada hari Jumat (1/5) lalu, ia didatangi empat orang naik mobil Xenia silver yang mengaku sebagai LSM yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sumut, bertugas sebagai tim monitoring, sambil menunjukkan surat tugas LSM dan surat tugas pers dari salah satu media terbitan Medan. Setelah dipersilahkan masuk ke kantor Kasek, ketiganya mencecer berbagai pertanyaan tentang keberadaan sekolah tersebut.

Siapa pemborong sekolah? Kenapa baru selesai dikerjakan sudah rusak lagi? Serta berbagai pertanyaan lainnya seakan untuk menjebak Kasek. Setelah itu oknum LSM dan wartawan itu menyodorkan satu lembar fomulir kosong yang berkop surat Dinas Pendidikan Nasional Sumut Dirjen Manajemen Pendidikan SD, SMP, dan SMA.

“Saya disuruh untuk mengisi formulir monitoring yang berlogo kop surat Dinas Pendidikan Sumut serta menulis apa yang menjadi permasahan di sekolah tersebut agar bisa mendapatkan bantuan seperti pengadaan mobiler sekolah, buku-buku, komputer, perawatan sekolah, penambahan guru tetap, dan bantuan lainnya, serta bisa mengurus masuk menjadi PNS. Setelah saya mengisi formulir tersebut, oknum wartawan dan LSM tersebut meminta uang sebesar Rp1 juta rupiah untuk mengurus usulan tersebut ke Medan. Lalu saya bilang kepada mereka bahwa uang saya tidak ada. Namun oknum wartawan dan LSM tersebut mengatakan, apabila tidak ada uangnya bagaimana kami bisa menyampaikan usulan ini ke Medan? Karena sudah didesak, saya pun meminjam uang masyarakat sebesar Rp1 juta dan memberikannya mereka,” ujarnya.

Setelah oknum wartawan dan LSM tersebut menerima uang tambah Kasek Ratna Dewi Hasibuan, mereka pun pergi sambil mengatakan agar berusaha mencari dua orang menjadi PNS dan paling lambat hari Senin depan (4/5), nama serta berkas-berkasnya sudah sampai kepada oknum tersebut sambil meninggalkan nomor HP.

“Setelah mereka pergi, saya sadar telah kena tipu dan bersama-sama dengan guru saya bermusyawah bagaimana cara untuk menjebak oknum wartawan LSM tersebut. Akhirnya kami sepakat untuk menjebak dan menghubungi pelaku kembali bahwa dua calon PNS telah ada dan uang serta berkasnya telah siap bagaiman cara untuk memberikan uang dan berkas tersebut. Kemudian kami berjanji hari Sabtu (2/5) akan mengadakan transaksi di salah satu tempat. Selanjutnya saya pun melaporkannya kepada Kapolsek Barus. Kemudian Kapolsek Barus mengirimkan tiga orang anggotanya untuk menangkap pelaku.

Korban lainnya, Kasek SDN 155702 Pulo Pane Kecamatan Sosorgadong, R Tumanggor mengalami hal yang sama. Ia pun pernah diperas oleh oknum wartawan dan LSM tadi sebesar Rp700 ribu agar diperjuangkan ke Medan supaya mendapat bantuan sarana dan prasana sekolah seperti penambahan guru tetap, mobiler, buku-buku, dan komputer. Sedangkan gurunya, Juliana br Gultom, menyerahkan uang sebesar Rp1 juta agar di perjuangkan menjadi guru tetap masuk database.

Salah seorang tersangka membantah mereka telah melakukan pemerasan. “Kami hanya melaksanakan tugas kami sebagai sosial-kontrol, sebagai seorang LSM dan wartawan. Kami ini sengaja dijebak,” ujarnya.

BLOG BERITA — Beberapa minggu silam di Kabupaten Tobasa juga pernah terjadi kasus pemerasan oleh oknum wartawan. Sebanyak tiga orang wartawan koran terbitan Medan yang bertugas di Tobasa tertangkap tangan oleh polisi saat memeras pengusaha pupuk.

Si korban awalnya sempat memberikan uang Rp2 juta kepada oknum-oknum wartawan itu, tapi dia didesak untuk memberikan lebih banyak. Oknum wartawan meminta Rp5 juta. Korban akhirnya menyanggupi Rp3,3 juta. Saat mencarikan uang yang kurang itulah korban menghubungi teman-temannya dan polisi. Petugas pun menahan mereka. Sempat beberapa hari ketiga oknum jurnalis itu ditahan di Polres Tobasa, tapi sudah dilepaskan. Kabarnya, korban tadi bersedia berdamai.

Update: Kasus serupa diberitakan Tempo Interaktif dengan judul, “Wartawan dan dua polisi pemeras ditangkap.”

Anggota Polri itu adalah Komisaris Polisi Rozal Yani dari satuan Badan Pembinaan Intelkam dan Brigadir Kepala Supriyadi anggota Samapta Polda Metro Jaya. Sedangkan wartawan yang terlibat Chairul Yahman dari media Mediator. Kedua polisi tersebut akan dipecat.

Untuk membaca artikel lain seputar kewartawanan, klik rubrik JURNALISME.

tafbutton blue16 Oknum wartawan Balige memeras guru di Tapteng

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

3 Responses for “Oknum wartawan Balige memeras guru di Tapteng”

  1. Mudaha-mudahan hal di atas bisa menjadi bahan sockterapy atau efek jera bagi teman wrtawan dan LSM yg suka memeras atau dengan bahasa kerenna manglapan onompon hon.

  2. Farida Simanjuntak says:

    Wah…wah.. Kenapa sekarang ini banyak wartawan yang tidak lagi konsekuen dengan tugasnya dan ga pakai hati nurani lagi. Uang sudah mengalahkan segalanya..

  3. moramona says:

    kasihan juga para RO (raja olah ini), biar mereka jera ni!

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.