“Manuhor sipatu pe antong anggota DPRD on ingkon tu Medan [anggota DPRD Tobasa untuk beli sepatu saja harus pergi ke Medan],” kata Pendeta Eben Ezer Siagian saat Blog Berita mewawancarainya dalam sebuah talk show radio.
Memang banyak pejabat Kabupaten Tobasa dan kalangan swasta yang bertugas di Balige sering keluar kota terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Seorang pejabat bank di Balige pernah mengeluhkan tidak adanya tempat hiburan publik di ibukota kabupaten ini. “Aku dan isteri sering bawa anak-anak ke Medan kalau hari libur. Di Balige ini payah, nggak ada tempat hiburan, paling cuma Lumban Silintong, itupun nggak nyaman kalau kita ke sana malam hari,” katanya.
Lumban Silintong yang dimaksudkannya adalah tepi pantai Danau Toba, 10 menit dari pusat Kota Balige. Inilah satu-satunya objek wisata yang biasa didatangi warga. Di sana, di tepi danau, terdapat belasan warung — diistilahkan sebagai “tenda biru” — yang menyediakan minuman dan makanan, terutama ikan mas bakar lengkap dengan bumbu khas Batak. Pada siang hari anak-anak cocok dibawa ke sana, bermain di pantai atau berenang. Tapi untuk malam hari, seperti dikeluhkan karyawan tadi, memang tidak nyaman jika harus membawa anak-isteri ke Lumban Silintong. Sebab umumnya kafe-kafe tersebut memainkan hiburan keyboard kencang-kencang di mana para tamu berjoget sampai lewat tengah malam.
Praktis di malam hari tidak ada tempat hiburan publik di Kota Balige yang bisa dinikmati keluarga. Bioskop pun tidak ada. Sekitar 10 tahun lalu ada dua bioskop yang beroperasi di Balige, tapi sudah berhenti. Taman kota juga tidak ada, seperti lazimnya di kota-kota lain, yang bisa dimanfaatkan keluarga untuk jogging atau sekadar membeli jajanan di sore hari.
Kalangan pelajar dan remaja Balige mungkin bisa sedikit lega karena dalam dua tahun terakhir sudah bermunculan warung Internet di Kota Balige, sedikitnya kini sudah ada 10 warnet. Inilah yang mereka datangi pada sore hari atau malam Minggu, biasanya sekaligus bertemu dengan teman-teman mereka.
Sebuah ibukota kabupaten seperti Balige sudah selayaknya memiliki sarana dan tempat hiburan publik, setidaknya taman kota. Tapi Pemkab Tobasa tidak pernah dengan serius memikirkan masalah ini.
Mungkin ada investor yang peduli dan mau membangunnya? Datanglah ke Balige, kami pasti akan senang dan mendukung. – BlogBeritaNet


Ketika kita menyalahkan orang lain atau saling menyalahkan dan kita tidak melihat ke diri “apa yang sudah kita perbuat untuk membantu pembangunan kota Balige tercinta ini, itu akan menimbulkan perpecahan. Saya amat setuju dengan apa yang dikatakan saudara Yonest yaitu Apa yang dikatakan oleh saudara Roy adalah sama sekali tidak ada hubungannya. Sebenarnya kalau kita ulas kembali bagaimana pengaruh kedatangan IL Nomensen sungguh besar. Orang Batak mengenal Tuhan dan memiliki agama. Ini mempengaruhi perilaku hidup sehari-hari. Hidup dalam ajaran Tuhan. Lupakan dulu tentang IL Nomensen buat sementara, mari ulas kembali mengenai tempat hiburan di Balige.
Roy..kamu punya kenalan atau family yang millionaire, ajak dong untuk berpartisipasi di kota Balige, gitu….
Saya sungguh senang mendengar “marsipature hutana be”. salah satu cara untuk membangun tempat hiburan bagi keluarga dan masyarakat adalah anak-anak Tobasa. Mari pulang membawa sesuatu dan karya ke kota Balige…
Lumban Silintong itu bisa seperti Sanur di Bali. Soal alamnya luaaarrr biasa. Pengelolaannya yang tidak profesional. Bagaimana mau ramai, cafe-nya yang jam 23.00 Wib harus tutup, seorang rekan dari Jakarta yang saya bawa bilang ini masih sore (di Jakarta jam 23.00 wib memang masih sore, sebab pulang kerja saja jam 21.00 wib) Alasan cafe itu tutup karena ada razia Satpol PP. Wah, apanya yang dirazia? Tidak yang mengalah koq. Bila ada, tidak harus ditutup, tetapi ditertibkan. Lucu, ya! Kita jadi malu mempromosikan dengan tamu-tamu dari Jakarta dan Singapura itu. Pada hal mereka itu pakarnya pariwisata lho. Berulangkali mereka puji indahnya Lumban Silintong, tetapi akhirnya mereka kecewa. Tambah kecewa lagi pelayanan/makanan dan minuman cafe mereka nilai tidak standart dengan harga yang ditagih. Nilai harga tidak mereka permasalahkan, tetapi pelayanan/makanan dan minuman yang disajikan tidak seimbang dengan harga yang ditawarkan.
lumban silintong pun susah dijangkau, dan jalanan kesana juga kurang bagus (tapi ga tau sekarang, udah 4 tahun ga kesana)
OH Lae Jarar Siahan.
TUNGGULAH MATI DULU SEMUA BATAK YG BETOPENG KEREN ALIAS PENGIKUT BUDAYA EROPAH SI NOMENSEN.HKBP DAN YG LAIN.
SEANDAINYA NANTI BATAK PARMALIM KEMBALI KEATAS POPULERITAS ATAU ZAMAN BERGULING.PASTI BATAK PARMALIM INI AKAN MEMBANGUN SEMUA APA YG BATAK BANGGAKAN.KARENA MEREKA BANGGA MENJADI BATAK ASLI.
MUNGKINKAH INI AKAN TERJADI?SABARLAH DUNIA INI BERPUTAR PADA SUMBU NYA.NANTI SEMUA GEREJA DAN YG LAIN NYA AKAN HABIS DI LANDA GERHANA MUNGKIN KEBAKAR ATAU PENGIKUTNYA HABIS TERBUNUH.
TAPI PARMALIM YG SELAMAT AHIR NYA BATAK ITU AKAN BERSIH DARI PENGARUH VIRUS EROPAH /ALKITAB .INILAH FACTOR PEMBUNUH SEMUA KEBUDAYAAN BATAK DAN KEBANGGAN SEBAGAI BATAK.
@Roy…..
Sebenarnya apa yang lae bicarakan sedikit pun tidak ada berhubungan dengan apa yang sesuai dengan artikel ini tidak ada sangkut paut antara pemeluk, kok mengintimidasi gereja???kok menyalahkan pengikut nomensen (HKBP), mungkin lae salah dalam mencari artikel…..silahkan kunjungi http://www.salahalamat.wordpress.com
Benar kali pun bang… Buktinya kalo aku pulanh, betah di rumah aja tanpa melihat apa yang terjadi di Balige… Mau keluar, mamaku yang khawatir duluan… Sudah saatnya di Balige ada tempat hiburan tapi yang tetap memeluk nilai kesopanan, tata tertib dan adat.