Koran USA tumbang karena Internet, koran Indonesia bertahan karena korupsi

Posted by Jarar Siahaan on May 17th, 2009 and filed under Headlines, jurnalisme. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

Foto: Oscar Nomination

Foto: Oscar Nomination

Sejumlah media cetak besar di Amerika Serikat merugi, oplah berkurang, beberapa koran bahkan terpaksa tutup. Salah satu penyebabnya ialah karena pembaca berpindah ke situs-situs Internet yang memberikan informasi gratis.

Koran-koran di Amerika Serikat sekarang bermasalah, selain pengiklan yang berkurang, pembaca juga banyak yang mengandalkan media online. Contohnya koran  terbesar di San Francisco, The San Francisco Chronicle, segera ditutup atau dijual karena pada 2008 mereka rugi Rp600 miliar. Dua koran paling bergengsi Amerika Serikat, New York Times dan Washington Post, melakukan langkah penghematan karena turunnya iklan dan menguatnya media online. Times akan memotong gaji sampai lima persen sedangkan Post bakal menawarkan pensiun dini.

Sepanjang 2008 industri koran Amerika terpaksa harus melepas sekitar 41 ribu tenaga kerja dan sekitar 9 ribu lowongan kerja di industri koran hilang dari awal 2009 sampai sekarang. Lima koran besar di USA tutup sejak akhir tahun lalu.

Begitulah isi berita yang dikutip DetikCom, Tempo Interaktif, dan Okezone dari kantor berita Reuters, AFP, dan AP. Antara lain berjudul:

  • 2 Koran AS Hentikan Edisi Cetak Gara-gara Tren Internet
  • Sirkulasi Koran-koran Amerika Mulai Menyusut
  • Kelompok Media Terbesar Kedua Australia Rugi Triliunan Rupiah
  • Terancam Bangkrut, Koran AS Pindah ke Online
  • Dua Koran Paling Top Amerika Potong Gaji dan Pecat Wartawan

Maka menarik apabila muncul pertanyaan, tapi mengapa di provinsi dan kabupaten-kabupaten di Indonesia justru semakin banyak bermunculan koran lokal? Apakah mereka punya modal kuat, korannya beroplah di atas 20 ribu eksemplar, atau iklan barisnya antri seperti di harian Analisa [Medan] dan Pos Kota [Jakarta]?

Bukan karena itu. Semisal di Sumatera Utara, hampir semua koran yang muncul di era Reformasi tidak punya modal cukup, bahkan menggaji wartawannya pun tidak mampu; oplah rata-rata cuma 2 ribu eksemplar; dan iklannya kebanyakan “iklan tembak”, itu pun bisa dihitung jari. Sementara sebuah koran daerah dalam hitungan kasar layak disebut sehat bila oplah terjualnya minimal 8 ribu eksemplar per terbit, plus setidaknya satu halaman iklan; itu pun laba nyaris tidak ada apabila semua wartawan dan karyawannya digaji layak. Lalu mengapa koran-koran itu tetap terbit?

Inilah yang unik: …karena korupsi. Sudah menjadi pengetahuan umum kalangan aktivis kebebasan pers Indonesia, banyak [kebanyakan] koran lokal justru muncul karena jumlah pejabat daerah yang terlibat korupsi juga semakin banyak. Pejabat-pejabat korup inilah “pangsa pasar” mereka yang sesungguhnya, bukan pembeli koran eceran atau pemasang iklan. Para koruptor inilah yang secara tidak langsung membiayai operasional koran, yaitu melalui pemberian amplop atau transfer ke rekening petinggi koran, proyek, iklan tembak atau iklan paksa, dan bentuk suap lainnya.

Meski dalam hitungan bisnis media koran-koran lokal ini tidak akan mampu bertahan, tapi faktanya adalah mereka akan tetap terbit selama masih banyak pejabat korup yang bisa diperas. Mereka baru akan terbenam ketika jumlah koruptor menjadi segelintir.

Jadi media senang kalau korupsi terus merajalela? Inilah rahasia dapur pers Indonesia yang sesungguhnya yang tidak akan mereka buka kepada publik.

tafbutton blue16 Koran USA tumbang karena Internet, koran Indonesia bertahan karena korupsi

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

6 Responses for “Koran USA tumbang karena Internet, koran Indonesia bertahan karena korupsi”

  1. Wagino says:

    Itulah realita yang ada bang. Kolaburasi antara wartawan dan pejabat korup sudah bukan rahasia umum lagi. Sehingga jangan heran meski data penyimpangan sudah berada ditangan wartawan itu bukan berarti akan dipublikasikan, namun hanya sebagai senjata (nilai tawar). Nah akhirnya terjalin hubungan yg harmonis yang makin menyuburkan korupsi.

    Saya berani jamin, hingga saat ini sangat sedikit pejabat didaerah yang paham dengan media online dan lebih familiar dengan koran konvensional.

    Sehingga bisa ditebak media lokal atau bahkan regional enggan beraih/serius untuk beralih ke media online.

    Salam,
    Gieno

    • karena itulah aku bangga punya teman sepertimu, bang wagino. sudah dua tahun kita jadi “jurnalis nomor dua” dengan menulis di weblog, dan mudah-mudahan memberi manfaat bagi pembaca. sukses bang untuk blogmu, cilacap media.

      • Wagino says:

        Saya salut dengan tulisan Lae Jarar bersama Blogberita.net, cerdas dan menggigit.

        Di daerah saya, baru segelintir pejabat yg mengenal media saya karena selama ini sudah lebih dulu mengenal koran koran konvensional dan hubungannya itu sudah sangat lengket. Namun itu tidak menyurutkan saya untuk tidak menulis bersama cilacapmedia.com, meski resikonya harus gali lobang tutup lobang untuk biaya liputan dna sewa hosting yang makin hari makin bengkak.

        Kalau Lae melihat Cilacap lebih bersih itu hanya tampak dari luarnya saja, karena sebetulnya boroknya selama bertahun-tahun tertutup (sengaja ditutup) rapi. Hubungan yang manis selama-bertahun antara wartawan di Cilacap dengan pejabat telah terjebak dalam bom waktu yang siap meledak kapan saja.

        Dan terbukti, sejak akhir 2008 borok mulai terkuak, hasilnya sejak 2 Juni 2009 Bupati Cilacap ditahan Kejati karena tersangkut sejumlah kasus dugaan korupsi milyaran rupiah. Tidak hanya itu, sederet nama pejabat tingkat kabupaten (kepala dinas / bagian) juga sudah menyusul Bupati. Dipastikan banyak jabatan kosong karena banyaknya pejabat yang bakal dijebloskan ke penjara.

        Dengan terungkapnya kasus korupsi yang melibatkan pejabat, wartawan yang selama ini wartawan yang selama ini terpenjara oleh fasilitas yang diberikan pejabat/pemkab tidak bisa berbuat banyak.

        Makanya saya sudah bikin banner yang bertuliskan “KETIKA WARTAWAN DIBUNGKAM, Pewarta Warga Harus Bicara”

        Maju terus lae……!!

  2. butik online says:

    Kalau menurut saya sesuai dengan bukunya Hermawan Kartajaya yang berjudul New Wave Marketing.

    Ke banyakan perusahaan di US itu bangkurt bukan hanya koran karena mereka terlalu pede dengan reputasinya di masa lalu sehingga lupa untuk merespon perusabahan jaman. Dan saat ini perubahan menjadi lebih cepat karena disebabkan adanya Internet.

    Di Indonesia sendiri ada sebuah koran papan atas yang sudah mengantisipasi mengenai perubahan jaman ini, dan memang hasilnya sungguh luar biasa.

  3. dr. Anwar Lewa says:

    Kalau begitu media di Indonesia harus mempersiapkan diri , sebelum imbas yang terjadi di negeri paman sam berlanjut di indonesia

  4. amat says:

    Kalau wartawan di daerah mah banyak dapat upeti baik dari perusahaan maupun pejabat. Tiap bulan pasti dapat amplop, padahal mereka wartawan tetap dari media

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.