Memangnya kenapa kalau isteri berjilbab tiap hari? Memangnya kenapa kalau rajin ke gereja tiap Minggu? Apakah itu jaminan seorang politisi akan memimpin dengan baik, akan peduli rakyat, tidak akan korupsi? Halah!
Inilah kebiasaan buruk politisi Indonesia: suka sekali “menjual” agama demi kepentingan politik. Sedikit-sedikit bicara agama, sedikit-sedikit bicara ayat suci, dengan tujuan untuk mengambil simpati rakyat. Menurut Blog Berita, politisi yang suka menonjolkan ketaatannya dalam urusan agama adalah politisi yang sebenarnya merasa tidak mampu untuk memimpin, tidak percaya diri.
Coba baca kutipan berita dari Jawa Pos News Network [JPNN] ini. Pasangan Capres Cawapres Jusuf Kalla dan H. Wiranto atau JK-Wiranto diuntungkan istrinya, Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan Hj. Uga Wiranto. Pasalnya, menjadi satu-satunya pasangan yang beristri muslimah yang berjilbab menjadi salah satu alasan sejumlah ormas Islam menyampaikan dukungannya kepada paket Golkar-Hanura ini.
Hal ini diakui JK di Posko Golkar Slipi 2, Jalan Ki Mangunsarkoro Menteng usai menerima Pendiri Al-Khaerat, Habib Al-Jufri. “Saya juga terkejut pimpinan Hidayatullah datang kepada saya bikin spanduk. Mereka buat spanduk yang menunjukkan satu-satunya pasangan yang kedua istrinya berjilbab. Mereka mengaku melihat tiap hari berjilbab. Kebetulan lagi, bukan berjilbab untuk difoto. Ada juga kan yang berjilbab utk difoto,” ujar JK. [BLOG BERITA: JK tidak menyebut siapa politisi yang berjilbab hanya untuk difoto. Tapi kita tahu, Megawati sehari-hari tidak memakai jilbab, namun dia sering tampil berjilbab dalam poster dan iklan-iklan politiknya].
Ketua Umum DPP Partai Golkar ini menegaskan eksistensi istri mereka menjadi salah satu gambaran nyata paket dirinya dengan Wiranto adalah pasangan yang memahami dan menjalankan prinsip nasionalis-relijius.
Dalam catatan Blog Berita, memang bukan cuma JK-Wiranto yang pernah “menjual” agama demi meraih simpati rakyat. Hampir di setiap pemilihan gubernur atau bupati, politisi sering berkampanye akan menjadikan daerahnya menjadi kawasan yang relijius.
Tak usah jauh-jauh, Bupati Tobasa Monang Sitorus ketika kampanye pilkada dulu juga menjanjikan hal serupa. Bahkan sangat sering dalam apel pagi PNS di kantor bupati, rapat-rapat, atau pidato di hadapan masyarakat, dia berkata, ayo kita jadikan Tobasa yang relijius. Dia pun meminta PNS di kantornya untuk mengikuti kebaktian setiap hari Jumat pagi di lantai IV kantor Bupati Tobasa di Balige. Namun betulkah Tobasa dibuatnya menjadi relijius? Bohong!
Lihat saja, baru-baru ini pemerintah daerah menggelar hajatan besar di lapangan Sisingamangaraja Balige untuk merayakan HUT lahirnya Kabupaten Tobasa. Setelah selesai acara kebaktian dan berdoa, acara pidato, dll, sejumlah penyanyi nasional sengaja diundang untuk menghibur rakyat. Di hadapan ribuan rakyat dan Bupati sendiri Trio Macan berjoget erotis. Monang juga sudah ditetapkan oleh Polda Sumut sejak dua tahun lalu sebagai tersangka kasus korupsi Rp3 miliar. Inikah pemimpin yang taat beragama, yang relijius?
Soal JK-Wiranto yang isteri mereka memakai jilbab saban hari, apakah itu menjamin mereka lebih baik ketimbang Megawati-Prabowo atau SBY-Boediono? Kita tahu Megawati tidak memakai jilbab dalam kesehariannya, kita juga tahu isteri SBY tidak memakai jilbab.
Masih segar dalam ingatan publik, tahun lalu anggota DPR dari PPP, Al Amin Nasution, kepergok KPK menerima suap dan “memesan” perempuan. Al Amin ini juga termasuk politisi yang suka membungkus kebusukannya dengan label-label agama. Berikut kutipan percakapannya via ponsel dengan Sekda Bintan, Provinsi Riau, Azirwan, yang disadap KPK seperti dikutip KompasCom:
Al Amin Nasution (AAN): Di mana, bos?
Azirwan (A): Di Ritz Carlton.
AAN: Namanya?
A: Mistere, tempatnya turun lift satu.
AAN: Jam berapa?
A: Jam 10-lah. Bos mau dicariin satu gitu. Tapi aku tak janji. Kalau diupayakan nanti, selera bos payah pula.
AAN: Ya, carikanlah.
A: Yang kira-kira udah lama aku kenal, bos ini paham kan kira-kira.
AAN: Yang kayak tadi malam kan bagus juga yang baju putih itu.
A: Tak bagus.
AAN: Udah dipakai ya?
A : Nanti aku carikan yang bagus.
Dalam sebuah foto yang pernah diterbitkan situs DetikCom, terlihat pada pintu kantor Al Amin Nasution di gedung DPR tertempel “stiker agamais” yang isinya mengingatkan orang untuk taat beribadah dan salat. Halah!



yang agamis aja masih maksiat, apa lagi yang jauh dari agama ? gimana ya kira-kira ?…………..
memang, keberhasilan seorang pemimpin akan terlihat jika dia mampu menjadi pemimpin teladan dalam kehidupan keluarganya. jelas bahwa kita harus memilih pemimpin yang sudah terlihat niat dan tindakannya untuk menjalankan perintah Allah, SWT.
pilihlah pemimpin dgn hati nurani,,,,,ngga usah jontor-jontor an…………………..siapa pun yang terpilih jd capres-wapres indonesia…kt hrs FAIR PLAY gitu…ky final liga champion barca vs mu
Yang baik itu tentu muslimah yang berjilbat, yang tidak baik wanita muslim tidak pakai jilbab, konsekwen donk, jangan dicampur adukan kentut dengan air liur, mari kita sukseskan YK-WIN
wah logika anda terbalik oom. Kalo anda orang islam … pasti nilai berjilbab lebih tinggi dari tidak berjilbab, jika anda orang kristen pasti … nilai orang yg rajin ke gereja lebih tinggi dari yg tidak ke gereja …, itu wajar.
AKu kutip yah
“Memangnya kenapa kalau isteri berjilbab tiap hari? Memangnya kenapa kalau rajin ke gereja tiap Minggu? Apakah itu jaminan seorang politisi akan memimpin dengan baik, akan peduli rakyat, tidak akan korupsi?
Halah!
”
Apakah jaminan juga kalo tidak berjilbab atau tidak ke gereja seorang politisi akan memimpin dengan baik, akan peduli rakyat, tidak akan korupsi?
Halah!
Halah!
Halah!
Pandangan pertama itu penting .. first impression.
Panggil orang yg paling awam … suruh pilih orang yg gak dia kenal, ….
pasti yg digunakan pandangan pertama / first impression.
Hidup JK Win
Anda mengatkan, Pandangan pertama itu penting .. first impression.
Panggil orang yg paling awam … suruh pilih orang yg gak dia kenal, ….
pasti yg digunakan pandangan pertama / first impression.
Kelemahan kita orang Indonesia, termasuk Anda tentunya membaca komentar Anda diatas, masyarakat Indoenesia lebih sering menilai ketokohan/capability seseorang dari penampilan, gelar, dan lain-lain, seharusnya kita menilai pemimpin bukan dari gayanya berpakaian.
Setiap pilihan akan dimintai pertanggungjawaban…
Memilih pemimpin haruslah pemimpin yang benar-benar mau manjalankan syari’at Alloh dalam segala aspek kehidupan bukan yang menjadikan islam sebagai slogan saja…
kita harus memilih pemimpin yang paling baik diantaranya dari sisi kami sebagai seorang muslim tentunya kita melihat secara fisik karena ketiganya saya tidak kenal makanya kami sekeluarga memilih jk wiranto melihat mereka dan istrinya memakai jilbab yang merupakan kewajiban seorang muslim,insyaallah kami tidak salah pilih,maju terus jk wiranto semoga allah swt memujudkan ihtiar dan menjadikan bapak sebagai presiden dan wakil presiden amin