<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Humas dan krisis keuangan global</title>
	<atom:link href="http://blogberita.net/2009/05/21/humas-dan-krisis-keuangan-global/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogberita.net/2009/05/21/humas-dan-krisis-keuangan-global/</link>
	<description>Blog berita terbaru artikel unik video terbaik</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Sep 2009 02:16:28 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: fadmin malau</title>
		<link>http://blogberita.net/2009/05/21/humas-dan-krisis-keuangan-global/comment-page-1/#comment-9355</link>
		<dc:creator>fadmin malau</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 02:27:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/?p=1365#comment-9355</guid>
		<description>Mualiate, lae-ku

PR itu itu pekerjaan yang dibenci banyak orang, tetapi hatinuraninya untuk banyak orang.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mualiate, lae-ku</p>
<p>PR itu itu pekerjaan yang dibenci banyak orang, tetapi hatinuraninya untuk banyak orang&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: BARRY</title>
		<link>http://blogberita.net/2009/05/21/humas-dan-krisis-keuangan-global/comment-page-1/#comment-9313</link>
		<dc:creator>BARRY</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 15:54:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blogberita.net/?p=1365#comment-9313</guid>
		<description>Terima kasih Lae Fadmin atas tulisan detil yang bermanfaat.  Kalau saya pribadi melihat jika keharmonisan yang digambarkan diatas sebagai suatu yang ideal.  Sedangkan dalam berbisnis hal yang sifatnya ideal justru seringkali tidak tercapai.  Banyak perusahaan PR yang pandai mengedepankan situasi yang sifatnya kondusif, enak didengar atau dibaca tapi keadaan yang sebenarnya justru menggambarkan hal yang sebaliknya.  Contoh konkrit adalah perusahaan minyak dunia atau pengeboran kekayaan alam suatu negara yang justru memiliki budget tinggi untuk mengatasi image problem di mata dunia, baik dalam situasi finansial yang subur maupun tidak.  Hal ini dapat terlihat dari cara penanggulangan image jelek dalam hal pencemaran yang terjadi, harga minyak yang tinggi, dsb.

Karena posisi PR yang unik, berada di antara masyarakat, pemerintahan, dan pemilik bisnis, maka tidak jarang PR justru menjadi batu sandungan.  Ini saat PR berpihak tanpa pamrih terhadap pemilik bisnis itu sendiri atau pemerintah dibandingkan masyarakat yang notabene mendapat substitusi yang kecil dalam memperjuangkan hak mereka, karena jika uang sudah berbicara maka siapa juga yang akan mendengar rakyat kecil?

Walaupun demikian saya tidak menuduh semua PR melakukan hal tersebut.  Oleh sebab itu perusahaan yang ingin merebut hati mereka (konsumen, pemerintah daerah, masyarakat di sekitar pabrik, dsb) demi suksesnya kiprah bisnis ke depan perlu melakukannya secara terbuka dan mudah beradaptasi dengan linkungan.  Memiliki visi yang bukan hanya karena uang, namun demi kesinambungan hidup rakyat banyak dan nilai yang dimiliki perusahaan itu tersebut -yang tentunya hanya bisa mereka jawab sendiri.  

Tabik</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih Lae Fadmin atas tulisan detil yang bermanfaat.  Kalau saya pribadi melihat jika keharmonisan yang digambarkan diatas sebagai suatu yang ideal.  Sedangkan dalam berbisnis hal yang sifatnya ideal justru seringkali tidak tercapai.  Banyak perusahaan PR yang pandai mengedepankan situasi yang sifatnya kondusif, enak didengar atau dibaca tapi keadaan yang sebenarnya justru menggambarkan hal yang sebaliknya.  Contoh konkrit adalah perusahaan minyak dunia atau pengeboran kekayaan alam suatu negara yang justru memiliki budget tinggi untuk mengatasi image problem di mata dunia, baik dalam situasi finansial yang subur maupun tidak.  Hal ini dapat terlihat dari cara penanggulangan image jelek dalam hal pencemaran yang terjadi, harga minyak yang tinggi, dsb.</p>
<p>Karena posisi PR yang unik, berada di antara masyarakat, pemerintahan, dan pemilik bisnis, maka tidak jarang PR justru menjadi batu sandungan.  Ini saat PR berpihak tanpa pamrih terhadap pemilik bisnis itu sendiri atau pemerintah dibandingkan masyarakat yang notabene mendapat substitusi yang kecil dalam memperjuangkan hak mereka, karena jika uang sudah berbicara maka siapa juga yang akan mendengar rakyat kecil?</p>
<p>Walaupun demikian saya tidak menuduh semua PR melakukan hal tersebut.  Oleh sebab itu perusahaan yang ingin merebut hati mereka (konsumen, pemerintah daerah, masyarakat di sekitar pabrik, dsb) demi suksesnya kiprah bisnis ke depan perlu melakukannya secara terbuka dan mudah beradaptasi dengan linkungan.  Memiliki visi yang bukan hanya karena uang, namun demi kesinambungan hidup rakyat banyak dan nilai yang dimiliki perusahaan itu tersebut -yang tentunya hanya bisa mereka jawab sendiri.  </p>
<p>Tabik</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

