Masih remaja, bersekolah di SMK Negeri 1 Soposurung, Balige, Kabupaten Tobasa, kelas 2 Jurusan Mesin. Usianya baru 17 tahun. Namanya Desmon Krisman Hutagaol, warga Desa Hutagaol, Kecamatan Balige. Dia anak desa yang tangguh: saban hari, setiap pulang sekolah, dia memikul hingga 120 keranjang pasir untuk dijual.
Tonton video Desmon Hutagaol dan ibunya
Kamis kemarin, sepulang sekolah, Desmon langsung menuju sawah ibunya. Di sana sang ibu sudah menanti, sambil membakar rumput kering di areal sawah. “Susah bertani sekarang ini, hujan belum turun,” kata ibunya.
Wajah Desmon terlihat cerah bersemangat, tidak nampak kalau dia sudah letih dari sekolah. Tanpa bicara, dia langsung mengganti seragam sekolahnya, duduk di tanah, dan mengambil nasi yang sudah disiapkan ibunya. Nasi putih dengan ikan teri disambal. Tak lama dia makan. Lahap sekali.
Masih tanpa bicara, dan tanpa jeda istirahat, dia mengikat plastik biru menutupi kepalanya. Kaosnya dibuka, kini dia hanya mengenakan celana pendek. Tanpa sendal. Bersama ibunya Desmon turun ke sungai, persis di sebelah lahan sawah mereka yang mengering itu.
Dan mulailah pekerjaan rutin Desmon….
Dia dan ibunya mengorek pasir dari dasar sungai dan memasukkannya ke dalam keranjang. Ada dua keranjang. Setelah penuh, Desmon menjinjingnya ke darat, dekat sawah mereka. Pasir basah itu pastilah berat. Bayangkan, dia melakukannya hingga 120 kali agar pasir yang terkumpul bisa memenuhi satu mobil pick-up kecil.
Tenaga Desmon pasti terkuras, tapi sepertinya dia tetap santai. Tidak duduk untuk istirahat. Tubuhnya penuh keringat, bercampur air sungai yang dingin.
Ibunya tidak ikut mengangkut pasir, hanya mengorek. Desmon tampaknya tidak tega. Terkadang adik Desmon juga ikut membantu mengangkut pasir. Sudah dua tahun lebih dia melakukan pekerjaan berat ini, setelah keluarganya kembali dari Jakarta karena sang bapak sakit-sakitan.
Setiap hari sepulang sekolah, termasuk hari libur dan Minggu, Desmon Hutagaol selalu berada di sungai itu. Menjelang gelap mereka pulang. Pasir sudah menumpuk. Besok paginya pembeli akan datang dengan mobil. Saat itu dia pasti sedang menuntut ilmu di sekolah, dan sang ibu pun mendapat uang.
Satu kubik pasir dijual Rp30 ribu. Desmon hanya mampu mengumpulkan dua kubik perhari.
“Desmon, aku pulang, ya…,” kataku dari tepi sawah.
“Oke, bang,” katanya dari sungai. Tersenyum dia, seperti tidak merasakan lelah.
Blog Berita merekam video Desmon Krisman Hutagaol bersama ibunya saat mengumpulkan pasir di sungai, tetapi koneksi Internet lagi payah, mungkin beberapa jam lagi sudah kuunggah ke halaman ini. Sabar saja.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















sabar dek
sabar Desmon..semangat.tapi kita para orang tua jangan lagi membuat anak kita kehilangan masa remajanya seperti ini.sebelum punya anak rencanakan juga untuk pendidikannya.Saya sangat sedih melihat putra-putri batak saat ini banyak menjadi tki/tkw,prt,buruh pabrik di tangerang,batam.mari para orang dewasa calon orang tua agar lebih pentingkan kwalitas anak daripada kwantitas.di jepang juga saya ketemu beberapa pemuda batak jadi buruh kasar di pelabuhan.ooh bangsaku bangso batak maju..ayo jangan mau jadi buruh saja
Desmon… engkau akan tahan uji…
hidup berat sudah biasa, hidup enak menantimu di hari esok
Sembari kerja berat, tekunlah belajar ya
Belajar yang yang tekun dan baik untuk tujuan perbaikan nasib dan
mungkin ……bukan untuk menjadi ilmuwan
macam awak inilah, dulu panabiduhut…. ya mirip-miriplah kita
terima kasih pada Tuhan, saat ini kehidupan sudah lebih baik….
Aku tahu bukan rasa kasihan yang engkau harapkan
Tetapi hanya “…..kalau tidak bisa membantu tolong jangan lecehkan kami….”
Keep the Spirit !
Semoga Tuhan memberkati jerih payahmu…
desmon,,,, ceritamu ashik,,, trus berjuang kawan,,, tp kalau di kampung iya hrs seperti itu,, kalau nga, iya nga dapat duit,,,
Kerja keras akan menghasilkan keberhasilan. Anak seperti Desmon adalah anak yang patut dicontoh. Walaupun belum saatnya bertanggungjawab atas ekonomi keluarga tetapi Desmon memberi waktu untuk membantu keluarga.
Bagi kita yang mendapat kecukupan ekonomi, marilah kita hargai dan gunakan sebaikmungkin.
Desmon….kamu anak baik, jangan lupa belajar ya…
Aku jadi ingat temanku yang dulu juga bekerja begitu, tapi ini perempuan. Teman sekelasku dan tinggal di daerah Hutagaol juga.. Waktu itu kami mau kerja kelompok, dia buru-buru pulang, akhirnya aku dan kawan lain minta ikut ke sungai.. KAmi pun turun ke sungai dan membantunya.. Berat sekali pekerjaan itu tapi karena kami lakukan bersama dan sambil bercanda, ga terasa dia jadi bisa mengumpulkan lebih dari hari biasanya.. Tapi sayangnya, aku kehilangan kontak dengan dia.. Desmon.. Tetap semangat…. Suatu hari nanti kamu pasti memetik hasil dari jerih payahmu ini…
Jgan menyerah terhadap pahitnya kehidupan,,
karna sebenarnya disitulah kamu temukan makna kehidupan,,
Benar,,,kelak kamu akan menuai jerih payahmu kawan!!!
Orang seperti Desmon ini akan bisa menjadi orang besar di kemudian harikelak. Semoga.