Jarar bukan nama generik. Bukan nama kebanyakan seperti misalnya, “Ini bapak Budi” dan “Ini ibu Wati” yang diajarkan di bangku kelas 1 SD.

Jarar Siahaan adalah sebuah nama plus marga, namaku tentunya. Di kalangan orang Batak Toba sendiri belum pernah kutahu ada orang memakai nama ini. Kabarnya ada tapi sangat jarang, dan sampai detik ini aku belum pernah bertemu dengan orang yang senama denganku.
Di mesin pencari Google, Jarar hanya bisa kutemukan — selain namaku sendiri — sebagai nama orang dari luar Indonesia, misalnya Perancis dan Arab Saudi, itupun lebih banyak dengan ejaan dua huruf R atau Jarrar. Tidak banyak nama Jarar muncul, sampai tadi kucoba Google menghasilkan hanya 36.700 tautan ke Jarar. Bandingkan dengan nama-nama umum seperti Andi [31 juta lebih], Budi [18 juta lebih], atau nama tengahku Fendi [15 juta lebih].
Menurut bapakku, nama Jarar adalah pemberian ompung atau kakekku. Kutanya apa maknanya, bapakku sampai sekarang belum bisa memberi jawaban memuaskan. Konon Jarar adalah kosa-kata Batak tempo doeloe. Entahlah. Apalah arti sebuah nama, kata William Shakespeare.
Kunamai rubrik ini sebagai Asli Jarar bukanlah hendak membantah adanya Jarar palsu yang mengatasnamakan aku di blog-blog lain. Teman-teman pembaca Blog Berita di tahun 2007-2008 tahu, namaku dan nama sejumlah kontributor web ini — antara lain si “gadis perkasa” Desy Hutabarat dan advokat-novelis Suhunan Situmorang — pernah dibajak di Internet. Kami dikondisikan sebagai penulis artikel agama yang benar-benar melecehkan agama Islam. Bahkan fotoku dan foto anakku, Gibran dan Nadya, dipasang seperti foto kriminal dengan mata dicoret [semoga karma datang padamu/kalian]. Tapi siapa yang mau dituntut, pembuat blog-blog itu anonim alias tak jantan, salah: banci. Itulah dulu ke situ — terjemahan langsung dari slang Batak “Ima jolo tu si.”
Asli Jarar adalah sebuah ke-aku-an yang “angkuh”, sebab itu kunamai Asli Jarar — bukan Jarar Asli, yang berarti ada Jarar Palsu. Rubrik ini takkan menjadi apa yang diinginkan pembaca, bukan untuk memuaskan selera orang lain, tapi lebih dulu memenuhi hasratku menulis. Lagi pula aku bukan alat pemuas.
Asli Jarar akan kutulis dengan tagline bikinan anakku Gibran: suka-sukakulah!
Di kolom khusus ini aku takkan menulis kebenaran, melainkan “kebenaran menurut Jarar”. Di sini takkan ada artikel yang “kondusif bagi pembangunan Tobasa”. Takkan ada postingan bertajuk “Bupati Toba Samosir korupsi” atau “LSM salut dengan Kejari” atau tulisan yang diakhiri dengan kata-kata “semoga, horas, amin” dan sebangsanya.
Subjektif adalah semangat utama Asli Jarar, karena bentuknya opini, opini yang ditulis seenak perut sendiri. Maka pembaca sangat sah bila berbeda haluan menanggapinya. Secara pribadi aku kurang suka dengan kesamaan, keseragaman, dan kepatuhan pada segala hal. Hidup tidak terasa nikmat bila semua orang sependapat.
Hiduplah merdeka, bila tidak, matilah sekarang juga
Tidak semua [tidak banyak] orang yang benar-benar merdeka. Ada orang yang rela makan hati dan memendam kesal asalkan jabatannya aman. Banyak yang diam membisu ketika seharusnya dia melawan supaya rupiahnya aman. Banyak yang malah menjilat dan membenarkan kesalahan demi kepentingan sesaat.
Hanya anjing yang layak menjilati kaki majikannya. Manusia yang sadar dirinya sebagai ciptaan bermartabat seharusnya tidak berbuat rendah begitu.
Anugerah paling pertama yang diberikan Tuhan kepada manusia beberapa detik setelah lahir adalah bersuara lewat tangisan. Marah, berteriak, merengek, protes, kesal, membantah, dan mendebat adalah bukti status kemerdekaan diri. Hanya orang-orang merdeka yang berani melakukannya, baik terhadap teman, orangtua, atasan, bahkan Tuhan.
Pilihan bagi manusia — yang sadar dirinya manusia, dan bukan “anjing suruhan” orang lain — cuma dua: Hidup dengan merdeka, atau mati dengan mulia.
Selamat berjumpa di seri #1 kolom khusus Asli Jarar!

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Menurut bapakku, nama Jarar adalah pemberian ompung atau kakekku. Kutanya apa maknanya, bapakku sampai sekarang belum bisa memberi jawaban memuaskan. Konon Jarar adalah kosa-kata Batak tempo doeloe. Entahlah.
mungkin dari kata manjarar…. (merambat )
istilah abg: may be yes, may be no.
Maju terus Lae Jarar…..
thx dukungannya, lae.
trus berkaryaaa bangg…
MANTAP!!!!
he-he-he, mantapmu itu.
Paham aku lae. Sebenarnya sudah lama juga rindu menikmati “asli jarar”. Soalnya sudah terlalu banyak di web ini “asli saduran”. Terus berkarya lae. Kutunggu asli jarar selanjutnya
setelah template blog berita kuganti, di halaman depannya lebih banyak artikel berbentuk berita & informasi. jadi “sempit” ruang [dan waktuku] menulis bebas; paling bisa di rubrik blogging, jurnalisme, berita toba samosir. makanya kubuat ASLI JARAR, biar lebih puas beropini. terima kasih, lae.
“Asli Batak” aja Bang namanya,
Bang Jarar kan orang Batak
kalau kubuat nama rubriknya ASLI BATAK, seakan-akan yang lain tidak asli batak.
Dagaaaa
ise ma nuaeng i wanita perkasa i,sarupa goar nami ate
horas ito asli
eh salah ito Jarar
Lae, namaku Ronggur termasuk langka juga khan?
tapi tak selangka pupuk bersubsidi, kan?
Asyik!!!
Salam kenal Bang.
terima kasih.
salam kenal tentunya ito Jarar SIAHAAN. kunjungan balik dari ku.
nice web, ito!
sepakat jika motto subjektif adalah semangat utama dan merdeka dari seorang Asli Jarar!
tetapi tetap pada kondisi bahwa manusia adalah ciptaan-NYA maka sebaiknya serapah tidak dibalikkan kepada orang2 yg berkata demikian.
sukses terus dengan karyanya, ito Jarar.
peace & love
~ds
terima kasih, ito.
pis jugalah.