Ini adalah cerita sang Draco, seorang lawyer di jaman Yunani kuno yang pertama kali memberlakukan undang-undang hukum dalam bentuk buku yang terkenal teramat biadab dan kejam. Bentuk hukuman tidak kenal ampun. Seorang pencuri kecil-kecilan misalnya pasti dihukum mati, seorang pengutang, bila tidak sanggup membayar hutang dipaksa menjadi slave. Akibatnya sampai sekarang sebuah bentuk hukum yang terlalu menindas disebut sebagai “Draconian Law”.
Tahun 1998, oleh Proletar — Sang Draco yang hidup 2.700 tahun yang lalu ternyata dibangkitkan Tuhan dan setelah mati sekian lama dia tentu ingin mengenal law di jaman yang modern ini. Di head line koran Greeks news yang sedang dia baca terdapat judul “140 mahasiswa luka luka, 2 mati diterjang senjata ABRI”.
Penasaran, sang Draco mencari koran Athens news judulnya kali ini “Presiden Indonesia Memerintahkan ABRI Untuk Menindak Keras Para Demonstran”. Sang Draco yang tadinya pesimis bahwa ajarannya tidak tidak berkembang, tiba-tiba tersenyum bangga. Setelah meneliti sejumlah negara, di samping sisa negara-negara komunis dan Arab seperti Irak, Indonesia adalah yang paling disukainya.
Sang Draco akhirnya memutuskan pergi ke Jakarta. Saat itu situasi sedang memanas, mahasiwa masih terus berjuang melawan penindasan regim orde kafirun. Di jalan-jalan Sang Draco melihat darah berceceran. Ratusan kepala pecah di pentung oleh popor ABRI dan polisi. Tangisan dan teriakan kesakitan bagi telinga Draco adalah symphony yang indah. Betapa kagumnya Draco pada wajah-wajah orang bersenjata yang nampak begitu berwibawa.
Tidak jarang Draco menyempatkan diri untuk menegur polisi yang sedang sibuk mengemplangi pemuda yang bertampang polos dengan baton. Di jabatnya tangan polisi itu dengan erat sambil mengatakan congratulation. Dan polisi yang selama ini memang cuma mendengar tokoh pengajar besar yang selalu di sebut-sebut semasa pendidikan AKABRI, nampak girang, sambil menciumi tangan Draco tidak lupa dia meminta tanda tangan. Air mata sang polisi pun turun karena terlalu terharu menemui maha dosen ilmu kepolisian ini. Draco lalu bilang, “Sudahlah, kembali tuntaskan pekerjaanmu yang mulia itu, lihat anak muda itu sudah mau siuman lagi.”
Draco juga memeluki para marinir dan pasukan huru-hara. Di mana-mana dia selalu dikerubungi para tentara. Akhirnya berita tentang Draco sampai di telinga Pangab. Dengan segera dia meminta agar Draco bersedia memberikan ceramah selama sidang umum dan menemui Presiden RI. Tentu saja Draco bersedia, setelah dijemput langsung oleh sejumlah tokoh Golkar, Draco memasuki ruangan sidang.
Dalam sekejab gemuruh tepuk tangan membahana. 1000 manusia yang tadinya sedang nyenyak tidur karena bosan, kini terbangun karena sang tokoh besar pujaan mereka hadir di antara mereka.
Dalam pidato Draco mengatakan “bahwa hukum harus ditegakkan, hukum di atas segala-galanya.sebagai perangkat hukum, penyiksaan dan hukuman mati adalah alat terbaik. Jadi kita tidak boleh segan untuk mengepruk kepala orang-orang yang kastanya cuma bertitel rakyat. Kita adalah hukum, dan objek hukum adalah rakyat.”
Ruangan sidang gemetar oleh teriakan setuju, tepuk tangan makin menggemuruh. Presiden Indonesia yang datang belakangan, nampak tergesa-gesa menghampiri podium. Senyum mengambang di wajahnya yang mungil, orang besar nomor satu republik inipun harus mengakui bahwa dia banyak belajar dari Dracon, dia pun membungkuk dan sungkem dengan khusyuk.
Upacara demi upacara kehormatan dilakukan untuk menjamu Draco, hari terakhir Draco mendapatkan bintang kehormatan dari Presiden “Bintang Mahaputra” atas jasa-jasanya memperbaiki sistim hukum terbaik bagi Indonesia, yang membuat aman jalannya persidangan dan pemerintahan, dan kesuksesan ABRI membunuh sekian ratus demonstran, dan melukai sekian puluh ribu, dan menggagalkan revolusi rakyat yang ingin menjatuhkan sisa regim draconian terbesar di dunia ini. Sang Draco pun tidak mau kalah memberikan bintang “Maha Draconian” pada Presiden karena kepintarannya dalam menjabarkan ajaran Draconian Law.
Draco pulang, Indonesia ganti nama menjadi Indo Draconia. Konon di negara ini, pemerintahnya adalah Zombie, dan rakyatnya adalah orang-orangan.

