Apa alasanmu memilih atau tidak memilih SBY-Boediono

Posted by Jarar Siahaan on Jul 10th, 2009 and filed under Headlines, politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.

sby mega headline 150x150 Apa alasanmu memilih atau tidak memilih SBY BoedionoSeumur hidup selama ini aku golput, tidak pernah mengikuti pemilu sekalipun. Barulah tahun 2009 ini aku mau masuk ke bilik suara. Inilah sejumlah alasanku mengapa memilih SBY-Boediono dan bukan Megawati atau Jusuf Kalla.

Oleh Jarar Siahaan di Balige; foto dari Kompas.com

Aku sangat kecewa melihat hasil pemilu legislatif 2009, tapi aku puas untuk pemilu presiden. Kecewa karena ternyata masyarakat Kabupaten Toba Samosir lebih banyak memilih politisi busuk atau “caleg kek-kuk-kek-kuk”. Yang sudah tiga-empat kali duduk sebagai anggota Dewan dan tidak berbuat apa-apa demi kepentingan rakyat kecil masih saja dipilih. Politikus yang selama ini bekerja sebagai kontraktor dan proyeknya sering hancur walau baru berumur setahun masih juga dipilih. Legislator yang tidak pernah ngomong di sidang paripurna, tahunya menjilat dan mengekor bupati ke sana-ke mari pun masih dipilih. Semuanya karena uang suap yang diberikan si caleg. Politik uang.

Namun pada pemilu presiden kemarin di Tobasa aku tidak mendengar atau melihat ada suap dari ketiga calon presiden, baik kubu Megawati, SBY, maupun Jusuf Kalla.

Memilih presiden seperti orang bule membeli koran

Pola pikirku sederhana, aku tidak mau berpikir rumit seperti banyak analisis politik atau aktivis pendukung SBY maupun penentang SBY. Sering kudengar penduduk USA dan negara-negara Eropa umumnya membeli koran dari kios di pinggir jalan adalah dengan melihat “koran mana yang menarik dibaca hari ini”. Mereka tidak fanatik harus membaca The Washington Post saban pagi. Suratkabar mana yang menawarkan artikel segar, bermutu, menarik, atau mengejutkan untuk hari ini, itulah yang dibeli untuk dibaca.

Begitulah pula aku mempertimbangkan capres yang hendak kucontreng. Aku bukan anggota Partai Demokrat, dan dari dulu sampai selamanya aku sudah bertekad tidak akan pernah bergabung dengan parpol manapun. Jadi aku memilih SBY bukan karena faktor Demokrat. Kalau seandainya selama memimpin Indonesia SBY menunjukkan sikap anti-demokrasi, anti-kebebasan pers, bertangan besi, tidak patuh pada hukum, pastilah aku tidak akan mendukungnya.

Sederhana. Cuma itu alasanku memilih SBY. Aku tertarik padanya ketika dulu dia difitnah oleh mantan Ketua DPR dengan menyebarkan berita di televisi dan koran bahwa SBY punya isteri yang lain. SBY tidak membredel atau menggugat media yang menulis berita tersebut, tapi justru dia melaporkan pencemaran nama baiknya kepada polisi. Lalu setelah si mantan Ketua DPR meminta maaf karena telah menyampaikan informasi bohong, SBY pun mencabut pengaduannya. Dari sini aku melihat SBY tunduk pada hukum, mendukung kebebasan pers, dan tidak otoriter.

SBY tidaklah sempurna, dia bukan sosok pemimpin yang benar-benar seperti kudambakan. Antara lain karena aku tidak setuju dengan program BLT yang menurutku justru memanjakan rakyat. Tapi aku melihat lebih banyak yang positif dari seorang SBY ketimbang sisi negatif, dan sebab itulah aku memilihnya.

Rakyat tak butuh teori ekonomi Prabowo atau JK, abang becak atau petani lebih pintar mencari makannya sendiri

Mengapa aku tidak memilih Megawati-Prabowo dan JK-Wiranto? Seperti kukatakan di atas, aku tidak fanatik harus selamanya mendukung politisi A atau partai B. Ibarat membeli koran, aku memilih mana yang layak dibaca hari ini.

Dulu di zaman Orde Baru aku pendukung Megawati, setidaknya lewat artikel-artikelku di suratkabar. Kala itu bagiku dan bagi kebanyakan rakyat Indonesia, Mega adalah simbol perlawanan wong cilik terhadap kesewenang-wenangan pemerintahan Soeharto.

Di awal Reformasi, ketika PDIP meraih banyak suara, aku senang. Pun demikian ketika Megawati jadi presiden. Tapi kemudian kulihat PDIP banyak dosanya, anggotanya di parlemen kayak preman, Mega tidak berantas korupsi, dll. Apalagi setelah Megawati menyingkirkan Ketua PDIP Sumut, Rudolf Pardede, pada saat pemilihan Gubernur Sumut, dan Mega malah mendukung calon dari militer yang dulu terlibat kasus Kudatuli — penyerangan ke markas PDI pro-Mega. Mirip dengan Megawati mendukung Sutiyoso jadi Gubernur DKI Jakarta padahal Sutiyoso dulu terkait kasus penyerangan markas PDI semasa dia menjabat Pangdam Jaya.

“Bah! Tak benar lagi ini Megawati,” pikirku.

Satu lagi yang membuatku makin tidak suka dengan Mega ialah ketika muncul berita dan fotonya semasa menjabat presiden di mana Mega membiarkan kakinya dibasuh dengan air oleh seorang pria tua pendukung PDIP, dan Mega menyaksikan sendiri air kotor itu diminum oleh si wong cilik.

Beginikah pemimpin yang akan kupilih? Yang membiarkan dirinya diperlakukan bagai dewa? Tidak! Indonesia tidak butuh raja atau ratu, Indonesia tidak butuh “darah biru”, Indonesia butuh orang yang demokratis; karena Tanah Air dibangun dengan demokrasi.

Alasan lain mengapa aku tidak lagi menyukai Megawati adalah karena dia memilih Prabowo jadi wakilnya. Siapa yang tidak tahu, Prabowo dipecat dari TNI karena terlibat kasus penculikan aktivis. Masak pelanggar HAM mau kita dudukkan sebagai pemimpin bangsa.

Soal JK-Wiranto, aku tidak suka pada pasangan ini karena mereka tidak nasionalis menurutku. Saat kampanye mereka dengan bangganya berkata pada pers bahwa dari semua calon presiden/wakil presiden, merekalah yang paling islami karena isteri berjilbab –  menyindir Megawati yang tidak berjilbab dan isteri SBY-Boediono yang juga tidak berjilbab. Mau dibawa ke mana Indonesia ini kalau pemimpinnya masih berpikir picik soal agama. Mau jadi presidennya orang Islam saja?

Teori ekonomi kerakyatan yang kerap dikampanyekan Prabowo atau JK juga tidak kuterge. Kurasa aku sama seperti kebanyakan rakyat kecil yang tidak peduli dengan teori ekonomi. Tanpa menteri ekonomi atau tanpa kepala dinas pertanian pun masyarakat tetap bisa bekerja. Tak perlu cekcoki rakyat dengan ekonomi neo-liberal Boediono, rakyat tak paham dan tidak butuh itu. Mau ekonomi hantu belau atau hantu neo, rakyat tetap bisa mencari makannya.

Jangan kira abang becak atau ibu petani tidak bisa makan, atau menjadi jatuh miskin, tanpa teori ekonomi. Selama puluhan tahun mereka bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana dengan modal cangkul, becak, dan keringat.

Ayah dan ibuku yang tidak sarjana, yang cuma menjual mie gomak dan membuka warung kopi, bisa menghidupiku dan lima adikku hingga sarjana — tanpa teori ekonomi dan korupsi! [www.blogberita.net]

tafbutton blue16 Apa alasanmu memilih atau tidak memilih SBY Boediono

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!

Masukkan email Anda untuk BERLANGGANAN GRATIS:

Setelah diklik, ikuti petunjuk dari FeedBurner, cek email Anda.

Jumlah pelanggan Blog Berita via RSS & email Cara tampilkan fotomu pada komentar. Jumlah Pembaca KLIK DI SINI

1 Response for “Apa alasanmu memilih atau tidak memilih SBY-Boediono”

  1. alisyah says:

    Mudah2an birokrasi bakalan lebih bersih lagi di bawah kepemimpinan mereka. Masalah ekonomi, Boediono jauh lebih paham ketimbang Mega-Pro atau pun JK-Win.

Comments are closed

Advertisement

Arsip sejak Maret 2007

Gratis RSS-Email-Twitter

Klik Play-Tonton Video


Log in / BLOG BERITA mengizinkan konten web ini dikutip dengan syarat menyebutkan sumbernya www.blogberita.net dan membuat tautan-balik. Pengelola Blog Berita wartawan freelance Jarar Siahaan tidak bertanggung jawab atas komentar dan artikel tulisan pembaca. Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia. Berita terbaru Artikel menarik Video unik terbaik.