Partai Golkar mulai menunjukkan diri aslinya sebagai “partai abu-abu”. Lihatlah berita-berita koran, televisi, dan situs berita dalam beberapa hari terakhir khususnya setelah Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla, kalah suara pada pemilihan presiden 2009.
Pandangan politik parhuta-huta [ala orang kampung] dengan pola pikir yang tak rumit
Akulah parhuta-huta itu. Nama kampungku Balige, sebuah kota yang sangat kecil di tepi Danau Toba. Jalan utama dalam Kota Balige, lintas provinsi Jalan Sisingamangaraja, hanya sekitar dua kilometer panjangnya. Balige itu kampung kecil yang dipanggil kota, karena dia ibukota Kabupaten Toba Samosir.
Golkar tinggalkan Koalisi Besar? Koalisi Lanjutkan Bersama SBY, Golkar Bisa Lebih Cepat, Lebih Baik pun Oke
Semasa kampanye, sebelum hari pencontrengan Pilpres 2009, terlihat di televisi Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla, beberapa kali bertemu dengan Megawati dari PDI Perjuangan, Wiranto dari Partai Hanura, dan Prabowo dari Partai Gerindra. Mereka mendeklarasikan apa yang mereka sebut sebagai Koalisi Besar.
Para analisis politik dan fulustik — jangan buka kamus politik, tak ada istilah ini — berpendapat, koalisi ini dibuat untuk menghadang SBY, yaitu agar terjadi pilpres dua putaran. Dalam putaran kedua, salah satu dari pasangan Megawati atau JK akan saling mendukung untuk menghabisi SBY.
Tapi sayang, kehebatan teori dan rencana para pembela “pilpres harus dua putaran” itu tak mempan di mata rakyat kebanyakan. Rakyat lebih tertarik pada figur SBY yang memang pintar menebar pesona, santun, tidak pendendam; dan rakyat tidak mengacuhkan Mega-Pro yang membawa slogan ekonomi kerakyatan tapi sambil menebar kebencian terhadap SBY.
Sekarang Prabowo berkata, dia masih yakin kalau Gerindra, PDIP, dan Hanura tetap bersatu di Koalisi Besar namun dia ragu apakah Golkar masih ikut. Aku setuju dengan keraguan Prabowo, memang Golkar adalah partai yang “pintar-pintar” [pintarnya dua kali] alias abu-abu.
Kata “Koalisi Besar” yang dulu diucapkan JK sekarang sedang akan berubah menjadi “Lanjutkan Koalisi Bersama SBY Kita Bisa Lebih Cepat”. Mendingan masih, asal jangan Koalisi Kebangsatan.
Dari Koalisi Besar ke Koalisi Dengan Syarat
Kemarin Agung Laksono, Ketua DPR yang juga dijagokan jadi pengganti JK di Golkar, berkata, Golkar sangat mungkin berkoalisi kembali dengan pemerintahan SBY. Tapi…, nah, tapinya ini yang aneh: “Kita akan mengajukan syarat untuk disepakati bersama. Kesepakatan tersebut intinya memberikan ruang lebih besar bagi Golkar untuk tetap bisa memberikan kritik,” kata Agung [JPNN].
Bah, cemmana ini. Kalau mau berkoalisi mendukung pemerintahan, ya dukung penuh, jangan bicara kritik lagi. Kalau mau mengkritik, jadilah oposisi seperti PDI Perjuangan. Atau jadi wartawan, jadi blogger sekalian, biar bebas mengkritik.
Wajar kalau pengamat LIPI, Lili Romli, beropini di IndoPos: “Kalau memang Golkar tidak mau menjadi oposisi, saya berani mencap partai itu hanya mengekor kepada yang sudah berjaya tanpa mau berjuang.”
Bergizi, turun mesin, tune up atau…
Satu hal yang sering identik dengan perebutan ketua Golkar ialah soal uang alias suap alias gizi. Inilah.com menulis, senior Golkar Fahmi Idris disebut-sebut layak memimpin partai itu tapi dia ragu karena tidak mau menyogok. “Aku nggak punya duit dan enggak mau menyogok,” kata Fahmi.
Sementara pengamat politik UGM berpendapat di Detik, saat ini Golkar sudah harus turun mesin, bukan lagi sekadar tune up, bila tidak ingin jadi partai gurem pada pemilu mendatang.
Menurutku, sih, jangan turun mesin atau tune up…, sekalian saja masuk gudang. Sudah kelamaan dipakai, sudah tua, uzur, “CC-nya” tidak lagi sesuai tuntutan zaman.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Setuju, Partai Golkar perlu masuk kandang, LEBIH CEPAT LEBIH BAIK, zaman sudah REFORMASI, politikus-politikus binaan SOEHARTO harus disikat habis, jangan di beri kkursi kekuasaan.
Pandangan politik parhuta-huta tapi mantap kok amang. Hehehe.
Pas debat pilpres kemaren, lae JK nya yang paling seru kata orang. Hape di kertas suara, tong SBY na monang.
Kita dukung lah Golkar, “Masukkan ke gudang, lebih cepat lebih baik”. hehehehe.