
MONANG SITORUS
Bupati Tobasa bikin julukan untuk dirinya sendiri: Bupati Jagung dan Bupati Modal Tenang. Julukan lain oleh suratkabar untuk Monang Sitorus adalah Monsi.
Nama Bupati Toba Samosir biasa ditulis dalam teks pidato dan naskah resmi secara lengkap sebagai St. Drs. Monang Sitorus, SH, MBA. Inisial di awal, St, adalah singkatan untuk “sintua”, pengetua gereja [baca artikel Khotbah yang sangat dahsyat]. Monang sebelum terpilih jadi bupati empat tahun lalu, menurut pengakuannya, adalah seorang sintua. Jauh sebelumnya dia sempat bekerja sebagai pegawai negeri sipil [PNS] di Jakarta, tapi menurutnya dia mengundurkan diri untuk kemudian bekerja sebagai konsultan teknik.
Pada tahun 2008 Monang membuat julukan untuk dirinya sendiri: Bupati Jagung. Kedua kata ini juga ditulis besar-besar sebagai tajuk tabloid Tobamas, sebuah media yang didanai APBD Tobasa dan dikelola oleh Bagian Humas Pemkab Tobasa. Tabloid terbatas yang tipis ini berisi informasi kegiatan-kegiatan seremonial Bupati dan instansi pemerintahan di Kabupaten Toba Samosir.
Sebutan Bupati Jagung berkaitan dengan proyek “jagung Tobamas” yang dimulai 2007. Monang membuat program jagung dengan target petani bisa memperoleh penghasilan tambahan selain bercocok-tanam padi. Proyek jagung ala Monang digemborkan habis-habisan di berbagai suratkabar, termasuk bila Bupati berbicara di Medan atau Jakarta. Dia mengklaim proyek ini telah berhasil.
Faktanya, pada 2008 investor Singapura yang terlibat dalam proyek jagung telah menarik diri. “Investornya sudah lari malam,” kata Parulian Gurning, anggota DPRD Kabupaten Toba Samosir, dalam wawancara dengan Blog Berita. Sebuah LSM juga pernah mengadukan proyek jagung Tobamas ke Polda Sumut karena diduga Kepala Dinas Pertanian Tobasa berbohong mengenai data lahan yang telah ditanami jagung.
Aku sintua Monang, modal tenang
Tidak cukup hanya sebutan Bupati Jagung, Monang kembali menciptakan istilah Bupati Modal Tenang.
“Ibana sintua Kasmin, godang kalapana. Ahu sintua Monang, modal tenang,” katanya.
Kalimat ini diucapkan Bupati Monang Sitorus saat berpidato di depan masyarakat Dusun Hasang, Desa Cinta Damai, Kecamatan Nassau, pada hari Sabtu, 1 Agustus 2009. Dia berkunjung ke desa terpencil itu untuk meresmikan penggunaan gedung SD Negeri Sipange yang disumbangkan oleh Prof. DR. Kasmin Simanjuntak — pengusaha, pernah kepala desa di Kecamatan Silaen, dan kini caleg terpilih DPRD Kabupaten Toba Samosir dari Partai Pelopor.
Monang tidak menjelaskan lebih jauh apa yang diamaksud sebagai bupati “modal tenang”. Sebagai catatan, saat pilkada empat tahun lalu, penyokong dana utama Monang Sitorus adalah konglomerat Raja DL Sitorus, pengusaha asal Tobasa yang belakangan mendirikan Partai Peduli Rakyat Nasional [PPRN].
Dalam pidatonya di Kecamatan Nassau, Bupati mengatakan DL Sitorus sebagai penasihat Bupati Tobasa selalu menekankan agar masalah pendidikan terus diperhatikan. “Dengan pendidikan, yang miskin bisa menjadi kaya. Beliau selalu berpesan kepada saya untuk membangun pendidikan. Nabisuk nampuna hata, naoto tu panggadisan.”
Tahun pertama-kedua menjabat sebagai kepala daerah, Bupati Monang Sitorus juga pernah ditulis sejumlah koran terbitan Medan dengan julukan “Monsi”, yang dipelesetkan atau disingkat dari nama Monang Sitorus.
Begitulah. Pejabat publik di Indonesia memang gemar dengan jargon dan julukan, yang sayangnya tidak sedikit hanya berupa basa-basi dan slogan kosong. [www.blogberita.net]


mohon usulan: bung jarar tolong buatin voting tentang monang sitorus calon bupati 2010-2015.trimakasih bung jarar…………………..
sudah kubikin jajak pendapat calon bupati tobasa 2010, termasuk nama monang sitorus.
apakah bung jarar yang mau jadi calon Bupati Tobasa dari marga sibagot nipohan???????????????
ga mungkin kita trus di pimpin bupati seperti monang sitorus ini yg sdh jelas 2 tkg korupsi??????????????/
dan apa tanggapan bung jarar apabila ada calon bupati tobasa dari sibagot ni poha…….
terimakasih…………………………………….
aku jadi calon bupati? :) tidaklah, lae mantan, selama sistem demokrasi indonesia masih andalkan uang.
soal calon bupati dari sibagot nipohan, pada prinsipnya aku setuju. tapi yang lebih mendasar, dari marga apapun sebenarnya sama saja, asalkan benar-benar untuk membangun — bukan membangun “kepribadiannya”, seperti rumah pribadi, mobil pribadi, tabungan pribadi, dll.