Bagi orang gila, sebenarnya, justru kitalah yang tidak waras. Tapi kita merasa diri paling waras sehingga mengira mereka gila. Padahal kita dan mereka sesungguhnya sama-sama gila.
Aku sering memerhatikan orang-orang gila. Apa kalimat atau istilah yang sering mereka ucapkan, dan bagaimana tindakan mereka sehari-hari.

ORANG WARAS YANG "GILA" Foto: hadeseh.com
Orang-orang gila yang waras
Mamaaa…! Aku tidak tahu, Mamaaaa! Tidak lapar aku, Mama! Aku pun tidak tahu, Mama…, tidak lapar aku, Mamaaa…!
Kalimat tersebut kudengar barusan, sekitar pukul 9 malam, diucapkan berulang-ulang oleh seorang gila yang tidur-tiduran di kaki-lima depan rumah orangtuaku.
Si Boru
Di Kota Balige ada seorang perempuan gila yang saban hari berjalan kaki keliling kota sambil membawa karung entah berisi apa. Orang-orang waras, terutama warga yang nongkrong di kedai kopi di tepi jalan raya, sering mengganggunya dengan memanggil-manggil, “Boru! Boru!”
Si Boru akan berhenti, marah, lalu membalas dengan suara melengking: “Ise do borum?” Artinya, siapa puterimu? Boru adalah bahasa Batak Toba untuk puteri.
Dua lelaki gila joget bersama
Suatu hari aku melihat dua orang gila, lelaki, usia paruh baya, berjoget di depan sebuah toko pakaian di Balige. Toko itu sedang memutar kaset lagu-lagu Batak yang diselingi lawak Batak. Jadi warga yang melihatnya tidak bisa menahan tawa, karena kedua orang gila itu ibarat penari-latar bagi musik yang tengah mengalun.
Awas kalau tak kaukasih duit, tabrakan nanti kalian
Yang satu ini sering dipanggil dengan nama Jai***, seorang perempuan. Sebenarnya menurutku dia bukan gila, tapi sudah terlanjur dia dicap sebagai gila. Mungkin dialah orang gila paling senior di Balige, dengan karir dua puluhan tahun sebagai “tukang palak”. Setiap malam dia berdandan dengan pakaian norak tapi bersih, bersolek dengan bedak dan lipstik tebal, tidak ketinggalan parfum yang menyengat hidung.
Jam kerjanya mulai pukul 8 malam hingga tengah malam. Ngeposnya di depan restoran tempat singgah bis antar-kota dan antar-propinsi di Kota Balige. Tugasnya, itu tadi, memalak alias meminta uang dengan cara memaksa dari penumpang bis atau supir mobil pribadi yang lagi parkir di tepi jalan.
Kalau tidak diberi duit, dia akan mengancam dan menakut-nakuti. “Matte ma ho, annon dabu ma hamu di tengkolan Sipintupintu. Bereng ma,” katanya. “Awas, matilah kalian nanti, masuk jurang di tikungan Sipintupintu.”
Biasanya orang yang dipalak dengan sumpah-serapah begitu akan mengalah lalu mengeluarkan uang dari dompet. Dikasih selembar pecahan seribu, dia akan meminta tambah lagi.
“Lumayanlah, aku kerja cuma sampai pukul 2 malam, bisa dapat Rp30 ribu,” katanya padaku suatu ketika.
Pernah aku sedang berada dalam mobil, sekitar empat tahun lalu, dan parkir untuk turun. Dia dengan cekatan menyeberangi jalan untuk menghampiri. Begitu kaca mobil kubuka, dia langsung mundur.
“Agoi amang, tak jadilah, wartawan-nya kau, nanti kautulis aku di koran.”
Asli, saat mendengar itu, aku tertawa meledak. Tapi di lain waktu dia akan meminta uang padaku dengan baik-baik, dan kuberikan. “Mauliate da, Tulangku do ho,” katanya. “Terima kasih, ya, pamanku-nya kau.”
Teman kecilku
Namanya Garoga. Dia temanku sewaktu SD. Sekitar 20 tahun lalu dia mengalami kecelakaan, kakinya patah, kepalanya terbentur. Sekarang dia sering duduk di emperan toko. Dia tidak mau mengganggu orang, dia hanya terdiam. Meminta-minta uang pun sangat jarang, kecuali dari satu-dua orang yang dikenalnya dengan baik. Bila ketemu dengannya di depan toko kue langgananku, anakku Gibran tidak lupa mengingatkanku: “Ayah, itu Garoga, di bawah tiang listrik, belum kau kasih uangnya.”
Tidak mau gratisan
Tahun lalu persis di depan rumahku, dua orang gila, laki-laki, berpapasan. Keduanya berjalan dari arah berlawanan. Aku lagi duduk di teras rumah.
Yang satu sering membawa korek api, biasanya berpuluh kotak, untuk dijual pada pemilik warung. Yang satu lagi sedang ingin merokok, tapi tidak punya korek. Mereka bercakap-cakap, entah dengan bahasa planet apa, aku sulit mengerti. Tapi kayaknya sedang negosiasi untuk barter.
Si gila yang punya rokok memberikan sebatang rokoknya pada rekannya. Yang punya korek menyulut api. Saat mau meneruskan perjalanan ke arah berlawanan, yang satu hendak memberikan dua bungkus korek api pada temannya sebagai pengganti rokok tadi, tapi tidak diterima. “Tidak usah,” kira-kira begitu. Didesak terus untuk diminta, tapi tidak juga mau.
Akhirnya si kolektor korek api menghampiri rekannya yang sudah beberapa langkah berlalu. Dia mengembalikan rokok yang sudah terlanjur diisapnya. Dia tidak mau untung di sini, rugi di sana.
Artikel ini ditulis dalam rubrik Asli Jarar.


orang gila yang terakhir, keren…
:D
Pertanyaan yang sampai saat ini masih berkecamuk dalam diriku ” mengapa di Balige makin banyak orang gila berkeliaran ? ” Tapi yang paling aku takuti adalah si celeng dan si tambunan, karena keduanya pernah mengejarku sambil ngancam…
si celeng… :)