Blog Berita — ADA DUA JENIS SUAMI. Semua pria mau poligami, apalagi yang beragama Islam, kata musisi Ahmad Dhani. Kalau ada lelaki yang menolak poligami, mereka munafik. Walah!
Artikel selengkapnya dikutip Blog Berita dari Okezone. Mantan suami Maia Estianty, Ahmad Dhani menuding pria yang tidak mau berpoligami adalah pria yang munafik. Karena menurutnya, semua laki-laki pasti mau berpoligami.
- Baca artikel Poligami dalam ajaran Islam
“Loh, semua laki-laki mau poligami, apalagi dia beragama Islam. Kalau laki-laki cuma cukup dengan satu istri itu munafik!” tegas Ahmad Dhani saat ditemui di Kemang, Jakarta, Sabtu (24/10/2009).
Ahmad Dhani menegaskan, di dunia ini hanya ada dua macam pria atau suami. Pertama, yang takut istri, dan yang kedua, yang mau berpoligami.
Meski begitu Ahmad Dhani menilai banyak pria melakukan poligami dengan maksud yang salah. “Jangan sampai membawa bawa nama Rasul, karena ini sudah ada sejak jauh dari masa Rasul (Nabi Muhammad SAW). Nabi Daud istrinya 100 wanita,” paparnya.
Makanya dia berharap klub poligami Indonesia yang terdapat di Cimahi, yang baru saja diresmikan, harus bisa menjelaskan maksud dan makna poligami dengan baik tanpa membawa-bawa nama Nabi Muhammad.

Artikel ini boleh dikutip HANYA JIKA disebutkan sumbernya www.blogberita.net DAN dibuat tautan-balik. Supaya tidak ketinggalan artikel terbaru, langgani RSS Feed, gratis!



















Ahmadinejad Bukan Keturunan Yahudi!
11 Oktober 2009 — ejajufri
Rumor yang mengatakan bahwa keluarga Mahmud Ahmadinejad pindah agama dari Yahudi ke Islam adalah dusta. Faktanya, mereka bangga sebagai Syiah.
Pada Juni 2005, kebangkitan yang cepat Mahmoud Ahmadinejad dari seorang gubernur Tehran menjadi presiden salah satu negara berpengaruh di Timur Tengah mengejutkan semua orang. Salah satu alasan yang membuat orang heran adalah minimnya kabar tentangnya.
Belum lama ini dipublikasikan sebuah kabar tentang latar belakangnya dari sebuah artikel di Daily Telegraph. Dengan judul “Mahmoud Ahmadinejad revealed to have Jewish past”, dikatakan bahwa keluarganya beralih ke Islam setelah kelahirannya. Klaim itu berdasarkan kepada sejumlah argumen, yang terpenting adalah nama panggilan sebelumnya adalah Saburjian yang disebut “berasal dari penenun daerah Sabur, nama untuk selendang Tallit Yahudi di Persia”.
Professor David Yeroshalmi, penulis Yahudi Iran di Abad 19 dan seorang ahli komunitas Yahudi Iran, membantah kebenaran argumen tersebut. “Tidak ada arti apapun untuk kata “sabour” dalam dialek Yahudi Persia manapun, bukan juga penenun syal Yahudi di Persia. Terlebih, nama Saburjian bukan nama Yahudi yang dikenal,” ucapnya dalam wawancara. Padahal, Yahudi Iran menggunakan kata Yahudi “tzitzit” untuk menjelaskan penenun Yahudi
Yeroshalmi, sarjana di Pusat Ilmu Iran Universitas Tel Aviv, juga membantah temuan artikel itu yang menyatakan bahwa akhiran “-jian” menujukkan bahwa keluarga itu mempraktikkan Yahudi. “Akhiran ini tidak cukup untuk menyatakan seseorang punya latar belakang Yahudi. Banyak nama panggilan Muslim yang mempunyai akhiran yang sama,” tegasnya.
Atas penyeledikan lebih mendalam, penjelasan yang jauh berbeda tentang “Saburjian” muncul. Menurut Robert Tait, koresponden Guardian yang berkunjung ke keluarga desa Ahmadinejad tahun 2005, nama itu “berasal dari pelukis benang—sabor dalam bahasa Persia—;hal yang umum dan pekerjaan sederhana di industri karpet di provinsi Semnan, di mana Aradan berada.” Hal ini dibenarkan Kasra Naji, yang juga menulis biografi Ahmadinejad dan bertemu dengan keluarganya di desa. Menenun karpet atau mewarnai karpet bukanlah pekerjaan yang berhubungan dengan Yahudi di Iran.
Menurut Naji dan Tait, ayah Ahmadinejad, Ahmad, sebenarnya adalah seorang Syiah yang taat, yang mengajarkan Quran sebelum kelahiran Ahmadinejad dan kepindahannya ke Tehran. Ahmad Saburjian yang taat ini membeli sebuah rumah dekat dengan Husainiah, tempat agama yang biasa digunakan pada bulan Muharram untuk mengenang syahidnya Imam Husain.
Lebih lagi, ibu Mahmud Ahmadinejad adalah seorang Sayyidah. Ini adalah gelar yang diberikan kepada wanita yang keluarganya diyakini memiliki keturunan darah langsung dengan Nabi Muhammad. Sedangkan lelakinya diberi gelar Sayyid, termasuk tokoh terkemuka seperti pemimpin spiritual Iran, Ali Khamenei. Dalam agama Yahudi, hal ini sepadan dengan Cohen, yang merupakan keturunan langsung dari Aaron (Harun as), saudara Musa (as). Seseorang harus dilahirkan dalam keluarga Sayyid: gelar ini tidak bisa diberikan kepada seorang Muslim karena kelahiran, apalagi pindah agama. Faktanya, ibu Ahmadinejad bangga dengan garis keturunannya yang setiap orang keluarganya di Aradan bertanya kepadanya karena gelar Islamnya, Sayyidah.
Alasan bahwa ayah Ahmadinejad mengganti nama panggilan adalah karena perjuangan kelas (class struggle) di Iran. Ketika hal itu menjadi perintah untuk memakai nama panggilan, banyak orang dari wilayah desa memilih nama yang merepresantasikan profesi mereka atau leluhur mereka. Hal ini membuat mereka mudah dikenal sebagai warga kota. Dalam banyak kasus mereka mengganti nama panggilan untuk pindah ke Tehran, dengan tujuan menghindari keangkuhan dan diskriminasi dari warga ibu kota.
Saburjian merupakan satu dari sekian banyak keluarga. Nama panggilan mereka berhubungan dengan pembuat karpet, sebuah industri yang menampilkan gambar para pekerja keras. Mereka menggantinya menjadi “Ahmadinejad” dengan tujuan untuk penyesuaian. Nama baru itu dipilih karena berarti “ras Ahmad”, sebuah nama yang diberikan kepada (Nabi) Muhammad.
Menurut keluarga Ahmadinejad nama baru itu menekankan kesalehan keluarga dan dedikasi mereka terhadap agama dan pendirinya (“pendiri” yang dimaksud Guardian adalah Nabi Muhammad—ejajufri). Hal ini merupakan hal yang presiden dan keluarganya di Tehran dan Aradan pertahankan hingga hari ini. Bukan karena mereka membantah masa lalu mereka, tapi karena mereka bangga dengannya.
Sumber: Ahmadinejad has no Jewish roots
Penerjemah © ejajufri
wah bahasanya bisa memperpecah persatuan bangsa nih meski demikian be smart aja..cari sumber dasarnya baru dibicarakan…lah wong si dhani bukan jebolan pesantren kok ngomongnya kaya orang habis minum A’O hahahahah Horas….
untuk pak keadilan..jngan lah bung ini bawa2 agama nanti bisa runyam yang gemblung toh si dhani nya jngan agamanya okeh salam kenal maju terus blog berita Ciayyoo…..
Ahmad Dani tdk salah berpoligami, itu adalah kepercayaan agama. jadi bagi anda yg iri-iri agar stop untuk protes. makanya jadi Islam aja, biar bisa Poligami, halal bo, buat aja 5 istri lo. muantabb, apalagi kalo sekali main semua. bagi gw.. Berpoligami ibarat Binatang yg tdk punya akal sehat. burung aja punya pasangan. yg setia trdp keluarganya, dan beratnggung jawab sma ana2nya. Poligami adalah perlakuan Binatang alias setan. perempuan itu juga manusia bro, dia punya hati kecil yg tdk bisa menerima ajaran agama seperti itu.
Suami tidak berpoligami bukan berarti ia takut istri, tapi karena ia CINTA kepada istri. Wong SETIA kok dicap TAKUT?
Dasar pikiran bejat hasil didikan Arab.
Banyak orang kalo ngomong sembarangan, kliatan berpendidikan tapi bahasanya provokatif, coba deh dipikir dulu, kenapa kita mesti memastikan ciptaan Allah, kok dipastikan lagi pula poligami kan ada aturannya. hatus diliat aturan dari Firman dan pemahaman para pelakunya dong…kok gebyah uyah…heh… Islam disamaain dgn arab, Arab bukan berarti pasti Islam kan…so..cob deh kita mesti ati ati banget… dengan kata kata kita, begitu juga dgn saya kalo salah semoga dibimbing jadi benar ya…tks