Tips Menjaga Keuangan Lancar di Masa Resesi Ekonomi

https://lh4.googleusercontent.com/WBFCUWM5Qd2bb9L1Gi7c--a9oGAmtDPv6DpM_m86QUpIKywCKAQ9RmTeli0U2tEmA-A1COm1wCBW9I5EoATYY-qUmZjC2nUQLCLNRRxG21ZJTyWD6LE8tNBbSsyJW4fA8UD5BLvZ

Kondisi keuangan beberapa negara sudah dipastikan masuk dalam gelombang resesi ekonomi. Secara sederhana resesi ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi riil tercatat negatif dalam dua kali berturut-turut atau lebih.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32 persen di kuartal II tahun 2020. Jika, pada kuartal III masih mencatatkan angka minus, Indonesia dipastikan bergabung dengan Singapura dan Filipina yang sudah mengalami resesi akibat pandemi virus corona.

Dampaknya saat ini beberapa perusahaan melakukan efisiensi dengan PHK karena pelaku usaha sulit mendapatkan pemasukan. Meskipun sudah ada komitmen dana pinjaman online cepat cair dan mudah 20 persen dialokasikan untuk membantu usaha dan permodalan, tetapi tetap saja kita harus memastikan keuangan tetap lancar jika Indonesia masuk dalam gelombang resesi ekonomi. 

Apa saja yang perlu dilakukan? Berikut tipsnya seperti dirangkum dari berbagai sumber: 

1. Hitung lagi pemasukan dan pengeluaran bulanan

Kondisi saat ini kadang-kadang ada saja kebutuhan di luar anggaran. Misalnya lupa membayar PBB, hingga pajak kendaraan. Apalagi jika membeli kendaraan atas nama orang lain, perlu proses bea balik nama yang juga membutuhkan biaya tidak sedikit.

Oleh karena itu, pastikan lagi bahwa pemasukan dan pengeluaran tidak berbanding terbalik. Upayakan pengeluaran maksimal 60 persen dari pemasukan. Jika ternyata lebih dari itu, artinya harus ada pengeluaran yang dipangkas sehingga bisa dialokasikan untuk dana darurat atau tabungan.

2. Klasifikasikan barang-barang kebutuhan pokok

Kita kerap kali belanja tanpa mengetahui bahwa apakah itu barang kebutuhan pokok atau bukan. Misalnya saat ini hand sanitizer bukan lagi barang biaya tetapi sudah menjadi kebutuhan pokok setiap orang di masa pandemi demi mematuhi protokol kesehatan dan memutus mata rantai penyebaran.

Hal kecil dan sederhana seperti itulah yang perlu kita review ulang, kira-kira barang kebutuhan pokok apa saja yang menjadi prioritas di masa pandemi sehingga nantinya bisa memangkas pengeluaran. Klasifikasikan mana kebutuhan pokok, kebutuhan hiburan, hobi atau rekreasi.

3. Beli karena butuh bukan karena ingin

Setelah melakukan kategorisasi tersebut, barulah bisa memutuskan mana yang sementara disetop terlebih dahulu pembeliannya untuk memangkas pengeluaran. Atau bisa juga dengan mengganti barang yang sama tetapi kualitas yang lebih rendah.

Misalnya jika kamu punya binatang peliharaan yang membutuhkan makanan premium, cobalah untuk sementara waktu diganti dengan makanan curah. Asal kebutuhan gizinya tetap terpenuhi dengan baik. Begitu pula dengan kebutuhan lain seperti belanja baju, gadget, aksesoris motor atau mobil, dan sebagainya.

4. Utamakan simpanan dan dana darurat

Kondisi yang perlu diantisipasi adalah kondisi ketika perusahaan tempat kita bekerja melakukan efisiensi besar-besaran yang berujung pada PHK. Maka, tak lain yang bisa dilakukan hanyalah dengan mengutamakan simpanan dan dana darurat.

Dana darurat inilah yang justru krusial di masa pandemi atau dalam menghadapi resesi ekonomi. Dana darurat idealnya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok antara enam sampai dengan 12 bulan. Sehingga jika sudah ada dana darurat tidak makan dari tabungan yang tujuannya berbeda. 

5. Berhutang boleh asalkan…

Lalu bagaimana jika ternyata sudah melakukan berbagai penghematan dan pengeluaran tetap saja kebutuhan melambung tinggi? Dalam kondisi demikian boleh saja kamu berutang tapi hanya untuk kondisi darurat saja seperti untuk kebutuhan biaya pengobatan, perbaikan rumah untuk menghindari kerusakan lebih besar, atau untuk biaya pendidikan.

Itu pun tetap harus dipantau secara ketat jangan sampai cicilannya melebihi sepertiga penghasilan. Makin kecil beban cicilan makin baik. Pilih juga durasi tenor yang fleksibel sehingga bisa memilih periode paling singkat.

Jika pilihan jatuh pada pinjaman online, pastikan dulu perusahaannya sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan demi keamanan dan kenyamanan debitur. Pinjaman online cepat cair dan mudah yang terdaftar di OJK contohnya seperti Kredivo. 

Kredivo menawarkan bunga 2,6% per bulan dengan tenor 3,6, sampai dengan 12 bulan untuk belanja online maupun pinjaman tunai dengan kredit limit sampai dengan Rp30 juta. 

Daftar sekarang bisa di mana saja dan kapan saja hanya lewat aplikasi Kredivo. Unduh aplikasinya gratis lewat Google Play Store maupun App Store dengan langkah yang mudah. Proses pendaftaran cepat kurang dari 3 menit serta persetujuannya akan diproses dalam 1×24 jam saja!

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *